Menu

Mode Gelap
Mabes Polri dan Dirjen Imigrasi Tangkap 251 Warga Asing Pelaku Penipuan Online Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan Dialog Multi Pemangku Kepentingan: Membuka Jalan Perekrutan yang Adil dan Etis Menteri Mukhtarudin Gunakan Formula 60:40 Dalam Pelindungan dan Penempatan Pekerja Migran Yuswati, PMI Simpenan Sukabumi Kritis di Abu Dhabi, Keluarga Mohon Bantuan Pemulangan Akibat Ditempatkan Ilegal, Ahli Waris Tidak Dapat Santunan Kematian Rp100 juta

Cerita Pendek

Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi

badge-check


					Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi Perbesar

Angin malam berhembus kencang. Lampu gantung di langit-langit rumah itu bergoyang-goyang, cahayanya menimpa wajah seorang perempuan paruh baya yang sedang melipat pakaian ke dalam koper tua. Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun duduk diam sambil menatap ibunya.

Raka: “Bu…”

Ibu: “Iya, Nak?” (menoleh sambil tersenyum lembut)

Raka: “Kenapa sih kita miskin? Sampai Ibu harus jauh-jauh ke Arab buat kerja? Aku kan sedih akan ditinggal ibu?”

Ibu berhenti melipat bajunya. Matanya menatap kosong ke arah lantai tanah yang retak. Suaranya pelan tapi berat.

Ibu: “Karena, Nak… kita sudah nggak punya sawah lagi. Dulu, waktu kamu kecil, kita masih punya sepetak sawah peninggalan kakekmu. Tapi sekarang… sudah nggak ada.”

Raka: (mengernyit) “Kenapa bisa nggak ada, Bu? Kan dulu panennya bagus?”

Ibu: (menarik napas panjang) “Panen memang bagus, Nak. Tapi harga gabahnya murah. Hasil panen nggak cukup buat nutup biaya pupuk, pestisida, sama bayar air irigasi. Petani kecil seperti kita tetap rugi. Akhirnya sawah dijual buat makan sehari-hari.”

Raka terdiam. Ia menciumi tangan ibunya yang kasar, ada bekas luka terkena sabit. Namun Raka tidak peduli. Terus menciuminya.

Raka: “Kata konten Tiktok, pemerintah itu punya banyak lahan. Jutaan hektar diberikan kepada  pengusaha. Kenapa bukan buat keluarga petani kayak kita aja, Bu?”

Ibu tersenyum pahit. Ia menutup kopernya perlahan.

Ibu: “Orang kecil siapa yang peduli. Kalaupun ada omongnya, paling janji kampanye. Ya kita cuma bisa berharap, suatu hari nanti, ada pemimpin yang benar-benar berpihak pada orang kecil. Mau ngasih lahan kepada para petani gurem.”

Raka menatap wajah ibunya lama-lama, matanya berkaca-kaca.

Raka: “Bu, kalau nanti Ibu udah di Arab, Raka boleh video call, kan?”

Ibu: (terharu, menahan tangis) “Boleh, Nak. Ibu janji. Tapi Raka juga janji ya, jangan malas belajar. Biar jadi pemerintah. Bisa ngasih lahan kepada para petani gurem. Bukan pengusaha saja.”

 

Baca Lainnya

Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan

8 Mei 2026 - 15:36 WIB

Sinden Sintren Subang, Jadi Korban Perdagangan Orang Modus Pengantin Pesanan China

28 April 2026 - 18:01 WIB

Direktur Wascedak KP2MI Guritno Wibowo Eksekusi Sanksi 4 P3MI

26 April 2026 - 15:17 WIB

Raida Formima: Calon PMI Majalengka Harus Pahami Konsep Migrasi Aman

23 April 2026 - 17:22 WIB

UU Pelindungan PRT Disahkan, Tangis Haru Pecah di Ruang Balkon

21 April 2026 - 16:32 WIB

Trending di Berita