Menu ✖

Mode Gelap
Judy Houyai, Kegiatan Pasti Ada Solusi Bersama 8 Kementerian di Hong Kong Dinilai Edan dan Gila Antara Kerakusan Agensi, Panggung Sandiwara Sosial, dan Realitas Pahlawan Devisa Ditempatkan Secara Ilegal ke Dubai, Keluarga Almarhumah Dede Nuraeni Gagal Dapatkan Santunan Rp85 Juta Sakit Parah di Kuching Malaysia, Sumiyati, PMI Asal Karawang Dipulangkan ke Pontianak Kalbar Kementerian Tenaga Kerja Taiwan Guyur Rp1 Triliun Atasi Krisis Perawat Migran Kaburan Kisah Apri, Gagal Sebagai Awak Kapal Ikan Migran, Kini Sukses Bisnis Travel Pariwisata di Malang

Cerita Pendek

Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi

badge-check


					Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi Perbesar

Angin malam berhembus kencang. Lampu gantung di langit-langit rumah itu bergoyang-goyang, cahayanya menimpa wajah seorang perempuan paruh baya yang sedang melipat pakaian ke dalam koper tua. Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun duduk diam sambil menatap ibunya.

Raka: “Bu…”

Ibu: “Iya, Nak?” (menoleh sambil tersenyum lembut)

Raka: “Kenapa sih kita miskin? Sampai Ibu harus jauh-jauh ke Arab buat kerja? Aku kan sedih akan ditinggal ibu?”

Ibu berhenti melipat bajunya. Matanya menatap kosong ke arah lantai tanah yang retak. Suaranya pelan tapi berat.

Ibu: “Karena, Nak… kita sudah nggak punya sawah lagi. Dulu, waktu kamu kecil, kita masih punya sepetak sawah peninggalan kakekmu. Tapi sekarang… sudah nggak ada.”

Raka: (mengernyit) “Kenapa bisa nggak ada, Bu? Kan dulu panennya bagus?”

Ibu: (menarik napas panjang) “Panen memang bagus, Nak. Tapi harga gabahnya murah. Hasil panen nggak cukup buat nutup biaya pupuk, pestisida, sama bayar air irigasi. Petani kecil seperti kita tetap rugi. Akhirnya sawah dijual buat makan sehari-hari.”

Raka terdiam. Ia menciumi tangan ibunya yang kasar, ada bekas luka terkena sabit. Namun Raka tidak peduli. Terus menciuminya.

Raka: “Kata konten Tiktok, pemerintah itu punya banyak lahan. Jutaan hektar diberikan kepada  pengusaha. Kenapa bukan buat keluarga petani kayak kita aja, Bu?”

Ibu tersenyum pahit. Ia menutup kopernya perlahan.

Ibu: “Orang kecil siapa yang peduli. Kalaupun ada omongnya, paling janji kampanye. Ya kita cuma bisa berharap, suatu hari nanti, ada pemimpin yang benar-benar berpihak pada orang kecil. Mau ngasih lahan kepada para petani gurem.”

Raka menatap wajah ibunya lama-lama, matanya berkaca-kaca.

Raka: “Bu, kalau nanti Ibu udah di Arab, Raka boleh video call, kan?”

Ibu: (terharu, menahan tangis) “Boleh, Nak. Ibu janji. Tapi Raka juga janji ya, jangan malas belajar. Biar jadi pemerintah. Bisa ngasih lahan kepada para petani gurem. Bukan pengusaha saja.”

 

Baca Lainnya

Kisah Apri, Gagal Sebagai Awak Kapal Ikan Migran, Kini Sukses Bisnis Travel Pariwisata di Malang

20 Oktober 2026 - 10:04 WIB

Perkuat Advokasi Pelindungan Perempuan Purna Migran, Balla’ta Migran Bulukumba Gelar Pelatihan Organisasi

10 Oktober 2026 - 17:49 WIB

SPKP PP dan PT Prima Dhani Bahari Tandatangani KKB Terkait Pelindungan Awak Kapal Migran

10 Juni 2026 - 12:39 WIB

Curhatan Seorang Pekerja Migran Indonesia, Antara Kebutuhan Keluarga dan Dirinya

29 Mei 2026 - 11:11 WIB

Idul Adha, Seni Melepaskan Ilusi Kepemilikan dalam Kehidupan

26 Mei 2026 - 17:44 WIB

Trending di Berita