Pernah terbayang bagaimana rasanya membagi waktu antara pekerjaan super padat sebagai perawat lansia (caregiver) dengan hobi menari tradisional di atas panggung megah?
Bagi Vika Agustiana (38) atau yang akrab disapa Vika, Pekerja Migran Indonesia Indonesia (PMI) asal Pulung Ponorogo Jawa Timur, hal ekstrem tersebut bukan cuma angan-angan, melainkan rutinitas yang ia jalani dengan penuh senyuman selama bertahun-tahun di Taiwan.
Sudah delapan tahun lamanya Vika mengadu nasib di Formosa. Di tengah rutinitas harian merawat lansia yang menuntut kesabaran ekstra, ia berhasil menemukan “ruang berkreasi” yang luar biasa.
Sejak tahun 2021, Vika resmi bergabung dengan Uters Dancer, sebuah grup tari tradisional Indonesia yang namanya sudah sangat populer di kalangan komunitas PMI bahkan masyarakat Taiwan.
Mencuri Waktu di Antara “Jam Tidur Siang” Ahma
Pertanyaan yang paling sering mampir ke Mbak Vika adalah: “Kok bisa, bagaimana bisa membagi waktunya? Kerja di Taiwan kan sibuk sekali?”
Dengan nada santai, Vika menceritakan bahwa kuncinya adalah pintar-pintar mencuri kesempatan. Maklum, dalam sebulan, ia hanya memiliki jatah libur satu kali saja.
“Saya memanfaatkan satu hari libur itu untuk kegiatan Uters Dancer, entah itu tampil di acara-acara budaya atau sekadar kunjungan edukasi ke museum-museum di Taiwan,” cerita Vika pada Jumat, 08 Mei 2026.
Lalu, bagaimana dengan latihannya? Di sinilah kreativitasnya diuji. Tanpa pelatih fisik di sampingnya setiap hari, Vika memanfaatkan teknologi. Ia sering berlatih sendiri di kamar dengan menyontek gerakan dari video YouTube.
“Bukan hal yang mudah, memang. Saya harus pandai mencari waktu luang. Biasanya saya latihan gerak saat Ahma yang saya rawat sedang tidur siang, atau ketika beliau sedang santai menonton TV. Di sela-sela itulah saya melatih kelenturan tubuh,” ujarnya sambil tertawa.
Kebahagiaan yang “Tak Bisa Diukur dengan Materi”
Bagi Vika, menari bukan sekadar gerak tubuh mengikuti irama. Menari adalah jiwanya sejak kecil. Bergabung dengan Uters Dancer bagaikan menemukan kembali kepingan dirinya yang sempat tersimpan karena tuntutan pekerjaan.
Ada rasa bangga yang membuncah di dadanya setiap kali ia mengenakan kostum tari tradisional Indonesia dan berdiri di atas panggung festival budaya di Taiwan.
Menonton reaksi kagum dari warga lokal Taiwan saat melihat indahnya budaya Nusantara menjadi kepuasan batin yang luar biasa bagi Vika.
“Ini memberi kepuasan batin yang luar biasa bagi saya sebagai pencinta seni. Kebahagiaan ini benar-benar tidak bisa diukur dengan materi. Saya sangat bersyukur, selain bisa bekerja mencari nafkah, saya juga bisa ikut melestarikan kebudayaan Indonesia di sini,” ungkapnya tulus.
Selain menyalurkan hobi, Uters Dancer juga menjadi rumah kedua baginya. Di tempat inilah Vika bertemu dengan teman-teman sesama Pekerja Migran Indonesia yang memiliki frekuensi dan kecintaan yang sama terhadap seni tari. Mereka saling mendukung dan menguatkan di tanah rantau.
Sukses Mengguncang Taiwan lewat “Formosa Warrior II”
Konsistensi Vika dan rekan-rekannya di Uters Dancer tidak main-main. Grup ini kerap wara-wiri di berbagai event bergengsi, baik yang diinisiasi oleh komunitas Indonesia maupun pemerintah Taiwan sendiri.
Salah satu pencapaian besar yang paling berkesan bagi Vika adalah suksesnya gelaran Festival Budaya Pejuang Formosa II (Formosa Warrior Culture Festival II) pada hari Minggu, 16 November 2025 lalu.
Event akbar yang digarap oleh Uters ini sukses menyedot perhatian publik Taiwan sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Pekerja Migran Indonesia bukan sekadar pekerja fisik, melainkan juga duta budaya yang membawa nama harum bangsa di kancah internasional.
Kisah Vika adalah bukti hangat bahwa keterbatasan waktu dan jarak dari kampung halaman tidak pernah bisa memenjara kreativitas. Dari sudut kamar ahma di Taiwan, lahir gerakan-gerakan indah yang memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada dunia.









