Menu

Mode Gelap
Anggota DPRD Karawang Saefudin Zuhri, Perjuangkan Pemulangan PMI Icih Yunengsih dari Dubai KDEI Taipei Perkuat Rantai Pasok Industri, Dorong Peningkatan Ekspor Manufaktur Indonesia Miris! Ratusan PMI Ditangkap di Jeddah, Terjerat Kasus Prostitusi, Miras dan Narkoba Viral, Koidah PMI Indramayu di Irak, Setahun Tak Digaji, Ibunya Lumpuh Terpaksa Mengemis untuk Makan Risiko Berlapis PMI Non-Prosedural Hamil di Luar Negeri: Minim Medis dan Dokumen Rumit Sempat Tertunda, Yuswati, PMI Sakit Asal Sukabumi Berhasil Dipulangkan dari Abu Dhabi

Cerita Pendek

Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi

badge-check


					Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi Perbesar

Angin malam berhembus kencang. Lampu gantung di langit-langit rumah itu bergoyang-goyang, cahayanya menimpa wajah seorang perempuan paruh baya yang sedang melipat pakaian ke dalam koper tua. Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun duduk diam sambil menatap ibunya.

Raka: “Bu…”

Ibu: “Iya, Nak?” (menoleh sambil tersenyum lembut)

Raka: “Kenapa sih kita miskin? Sampai Ibu harus jauh-jauh ke Arab buat kerja? Aku kan sedih akan ditinggal ibu?”

Ibu berhenti melipat bajunya. Matanya menatap kosong ke arah lantai tanah yang retak. Suaranya pelan tapi berat.

Ibu: “Karena, Nak… kita sudah nggak punya sawah lagi. Dulu, waktu kamu kecil, kita masih punya sepetak sawah peninggalan kakekmu. Tapi sekarang… sudah nggak ada.”

Raka: (mengernyit) “Kenapa bisa nggak ada, Bu? Kan dulu panennya bagus?”

Ibu: (menarik napas panjang) “Panen memang bagus, Nak. Tapi harga gabahnya murah. Hasil panen nggak cukup buat nutup biaya pupuk, pestisida, sama bayar air irigasi. Petani kecil seperti kita tetap rugi. Akhirnya sawah dijual buat makan sehari-hari.”

Raka terdiam. Ia menciumi tangan ibunya yang kasar, ada bekas luka terkena sabit. Namun Raka tidak peduli. Terus menciuminya.

Raka: “Kata konten Tiktok, pemerintah itu punya banyak lahan. Jutaan hektar diberikan kepada  pengusaha. Kenapa bukan buat keluarga petani kayak kita aja, Bu?”

Ibu tersenyum pahit. Ia menutup kopernya perlahan.

Ibu: “Orang kecil siapa yang peduli. Kalaupun ada omongnya, paling janji kampanye. Ya kita cuma bisa berharap, suatu hari nanti, ada pemimpin yang benar-benar berpihak pada orang kecil. Mau ngasih lahan kepada para petani gurem.”

Raka menatap wajah ibunya lama-lama, matanya berkaca-kaca.

Raka: “Bu, kalau nanti Ibu udah di Arab, Raka boleh video call, kan?”

Ibu: (terharu, menahan tangis) “Boleh, Nak. Ibu janji. Tapi Raka juga janji ya, jangan malas belajar. Biar jadi pemerintah. Bisa ngasih lahan kepada para petani gurem. Bukan pengusaha saja.”

 

Baca Lainnya

SPKP PP dan PT Prima Dhani Bahari Tandatangani KKB Terkait Pelindungan Awak Kapal Migran

10 Juni 2026 - 12:39 WIB

Curhatan Seorang Pekerja Migran Indonesia, Antara Kebutuhan Keluarga dan Dirinya

29 Mei 2026 - 11:11 WIB

Idul Adha, Seni Melepaskan Ilusi Kepemilikan dalam Kehidupan

26 Mei 2026 - 17:44 WIB

Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan

8 Mei 2026 - 15:36 WIB

Dijual Rp600 Juta untuk Menikah dengan Pria China, Perempuan Subang Hanya Menerima Rp50 Juta

28 April 2026 - 18:01 WIB

Trending di Berita