Menu

Mode Gelap
Perempuan Sukabumi Pukau Dunia Lewat Tari Jaipong di Pembukaan Asian Games 2026 Jepang Aturan Baru Perawat Lansia di HK Bikin PMI Senior Nyesek: Pengalaman Kalah Sama Selembar Kertas Neni Rosini: Mantan Pekerja Migran di Arab Saudi, Jadi Penulis Novel Digital Berprestasi Terbesar Sepanjang Sejarah, DPR Tetapkan Anggaran KP2MI Tahun 2027 Sebesar Rp3,9 Triliun Gempar! Podcast Faisal Soh. Bongkar Kesaksian CPMI Korban PT Cincau Ketum SPKP, Nursalim, Desak KP2MI Maksimalkan Anggaran Rp3,9 Triliun untuk Pelindungan Nyata

Berita

Terjebak di Kamboja: Kisah Pilu Elinda, PMI Bogor Kelaparan dan Ingin Bunuh Diri

badge-check


					Elinda Sari kelaparan dan putus asa karena tidak punya uang untuk makan dan biaya tiket pulang dari Kamboja Perbesar

Elinda Sari kelaparan dan putus asa karena tidak punya uang untuk makan dan biaya tiket pulang dari Kamboja

Phnom Penh — Jeritan hati datang dari seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bogor, Elinda Sari (26). Sudah lima bulan lamanya ia terkatung-katung di Shelter KBRI Phnom Penh, Kamboja. Alih-alih mendapatkan perlindungan penuh, Elinda mengaku kini didera kelaparan dan frustrasi berat hingga terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

“Untuk makan saja kalau ada uang, ya makan. Kalau gak ada uang, ya kelaparan lah. Sekarang di penampungan pun membuat aku benar-benar frustrasi, rasanya pengen bunuh diri karena bingung makan apa, dan harus pulang pakai apa. Aku benar-benar gak ada uang,” ujar Elinda dengan nada putus asa kepada Berita Buruh Migran, Selasa (23/6/2026).

Bertahan Hidup di Penampungan Bersama Kekasih

Setelah tidak tahan dengan siksaan mafia online scam, Elinda melarikan diri. Sejak Januari 2026, ia dan kekasihnya akhirnya mengamankan diri di Shelter KBRI.

Teman-teman seangkatannya sudah berhasil pulang karena dibantu oleh keluarganya di Indonesia. Sementara Elinda yang sudah yatim tidak memiliki keluarga, hanya bisa menggigit jari.

Menurut Elinda, kondisi di penampungan pun kini semakin memprihatinkan karena bantuan makan dihentikan. KBRI dikabarkan sudah tidak lagi menanggung biaya makan para penghuni shelter. Uangnya sudah habis, uang yang tersisa hanya cukup untuk menyambung nyawa sehari-hari, menabung untuk tiket pulang mustahil terkumpul. Selain itu juga Visa sudah kedaluwarsa. Visa milik Elinda sudah mati sejak Februari 2026 lalu. Pihak KBRI sejauh ini hanya bisa membantu proses pemutihan visa, bukan memulangkannya.

Respons Dingin dan Janji Palsu Dinas Sosial

Upaya Elinda untuk mencari pertolongan ke tanah air kerap menemui jalan buntu. Sekitar sebulan lalu, ia sempat berhasil menghubungi admin Dinas Sosial Kabupaten Bogor. Pihak Dinsos sempat berjanji akan membantu, namun kini komunikasi tersebut putus total.

“Sampai sekarang gak ada kabarnya lagi, sudah satu bulanan gak ada respons. Saya sampai kelaparan di penampungan, benar-benar butuh bantuan pun tetap gak ada respons,” keluhnya.

Lebih menyakitkan lagi, Elinda mengaku mendapatkan perlakuan dan ucapan dingin dari oknum pihak KBRI ketika dirinya mencoba meminta bantuan pekerjaan sementara demi bisa bertahan hidup.

“Padahal aku di penampungan benar-benar telantar kelaparan butuh bantuan, cari kerja pun susah. Minta kerjaan sama pihak KBRI pun, pihak KBRI malah mengatakan, emangnya kamu siapa saya? Saudara bukan, keluarga bukan, teman bukan, kok minta kerjaan sama saya?'” tutur Elinda menirukan ucapan oknum tersebut.

Berawal Sejak Juli 2025: Tergiur Lowongan Pemetik Buah

Malapetaka yang menimpa warga Kampung Plered Pabuaran, Kecamatan Bojong Gede Bogor ini bermula pada awal Juli 2025. Saat itu, ia tergiur lowongan kerja luar negeri yang berseliweran di media sosial. Iklan tersebut menawarkan posisi sebagai pemetik buah di Malaysia dengan janji gaji yang sangat besar.

Namun, janji manis itu berubah menjadi siasat licik. Setelah proses kilat selama seminggu sejak pendaftaran di bulan Juli 2025 tersebut, Elinda memang diterbangkan ke Malaysia, namun hanya untuk transit. Tujuan aslinya ternyata adalah sarang mafia online scam di Kamboja.

Disiksa dan Tak Digaji karena ‘Gagal Menipu’

Selama enam bulan bekerja di perusahaan ilegal tersebut, Elinda mengaku tidak pernah menerima gaji sepeser pun.

“Akibat tidak pernah mendapat omset scam, jadinya aku juga gak pernah terima gaji. Aku gagal terus karena tidak bisa menipu,” ungkapnya.

Karena gagal mencapai target tipu-tipu tersebut, Elinda harus menerima hukuman fisik hampir setiap hari dan dipaksa kerja lembur hingga membuatnya nyaris gila.

Kini, Elinda dan kekasihnya hanya bisa berharap ada keajaiban atau uluran tangan dari dermawan maupun donatur yang tergerak hatinya untuk membebaskan mereka dari jerat penderitaan di negeri orang.

Baca Lainnya

Perempuan Sukabumi Pukau Dunia Lewat Tari Jaipong di Pembukaan Asian Games 2026 Jepang

22 September 2026 - 09:48 WIB

Aturan Baru Perawat Lansia di HK Bikin PMI Senior Nyesek: Pengalaman Kalah Sama Selembar Kertas

20 September 2026 - 22:13 WIB

Neni Rosini: Mantan Pekerja Migran di Arab Saudi, Jadi Penulis Novel Digital Berprestasi

19 September 2026 - 19:13 WIB

Terbesar Sepanjang Sejarah, DPR Tetapkan Anggaran KP2MI Tahun 2027 Sebesar Rp3,9 Triliun

19 September 2026 - 08:32 WIB

Gempar! Podcast Faisal Soh. Bongkar Kesaksian CPMI Korban PT Cincau

18 September 2026 - 23:59 WIB

Trending di Berita