Menu ✖

Mode Gelap
Uang Puluhan Juta Raib, Pegiat PMI Japri Menteri Mukhtarudin Bantu Korban LPK Kitaro Insan Cendikia SPMI Laporkan PT Keluarga Samudera Indonesia ke Bareskrim Polri Terkait Tunggakan Hak Pelaut Migran Jejak Hitam Tentara Bayaran di Rusia: SBPI Sediakan Layanan Loker Resmi ke Rusia Blak-blakan, Menteri Mukhtarudin Bagikan Nomor HP Pribadi: Laporkan P3MI Nakal Langsung ke Saya! Kepada Menteri P2MI Mukhtarudin, Yosa Ketua IMWU Macau Tuntut Pemerintah Akui 8789 PMI di Macau Memanas: Dialog Pasti Ada Solusi di Hong Kong, Diwarnai Ketegangan Antara Ketua IMWU dan Menteri Hukum

Cerita Pendek

Ketika Laut Tak Lagi Memberi, Aminah Harus Pergi ke Arab Saudi

badge-check


					Tumpahan minyak di laut Pasirputih Cilamaya Kulon | Mongabay Perbesar

Tumpahan minyak di laut Pasirputih Cilamaya Kulon | Mongabay

Masruin duduk diam di atas perahu tuanya yang sudah mulai lapuk, bersandar di sisi Sungai Kampung Pasir Putih, Cilamaya Kulon. Laut Karawang terbentang di hadapannya, coklat, biru dan tenang, seolah tak ada apa-apa. Tapi bagi Masruin, di balik ketenangannya, laut itu menyimpan luka yang membatin.

Sudah dua bulan ia tak melaut. Bukan karena malas, tapi karena laut tak lagi memberi harapan.

“Sudah berbulan-bulan rajungan hilang lagi, Kang,” bisik Maman, tetangganya sesama nelayan, duduk di buritan perahu. “Bekas tumpahan minyak itu masih bau. Rajungan memang tak mau mendekat kalau air laut sudah tercemar.”

Masruin hanya terdiam membatu. Ia tak punya kata-kata. Yang ia punya hanyalah rasa sesak yang makin hari makin menghimpit dadanya.

Setahun terakhir, laut tak lagi bersahabat. Terumbu karang rusak, proyek pipa bawah laut menambah pencemaran, dan rajungan—sumber nafkah utama—menghilang entah ke mana. Tangkapan menurun drastis, harga solar tetap tinggi, dan warung tempat berutang sudah mulai enggan mencatat. Tagihan Bank Emok mulai meresahkan.

“Kita demo seperti Malih Tongtong ngomong sama Bolot. Huh kalau begini terus, dapur nggak ngebul, Man?” gumam Masruin, suaranya parau, seperti karat di besi tua.

Angin kencang dan ombak besar menandai musim barat. Sejak awal tahun membuat nelayan terkurung di darat. Hari-hari berlalu tanpa melaut, tanpa pemasukan. Di rumah, Aminah, istrinya, menghitung beras yang tersisa: dua liter.

Aminah adalah perempuan yang sabarnya seperti bumi. Tapi bahkan bumi pun bisa gempa. Dan hari itu, kesabaran Aminah mulai habis.

“Aku akan pergi,” katanya pelan tapi tegas. “Kakakku di Cilempung bilang ada sponsor yang bisa memberangkatkan ke Arab Saudi.”

Masruin mendongak, wajahnya pucat. “Tidak, Minah! Aku tidak mau kau jauh. Aku janji, besok aku akan cari pinjaman lagi. Aku juga akan nekat melaut lebih jauh.”

“Pinjaman dari siapa lagi, Kang?” Aminah meraih tangan suaminya. Air matanya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena terpaksa. “Kita butuh uang untuk sekolah anak, untuk melunasi utang di warung, di rentenir, di Bank Emok! Ini satu-satunya jalan agar kita bisa bertahan.”

Masruin tak menjawab. Ia hanya memeluk Aminah malam itu, erat, seolah ingin menahan waktu agar tak bergerak.

Sebulan kemudian, Pantai Pasir Putih menyaksikan perpisahan yang tak diinginkan. Masruin memeluk Aminah untuk terakhir kalinya. Aroma laut yang biasanya menenangkan kini terasa asin bercampur air mata.

Mobil travel yang membawa Aminah menuju bandara perlahan menjauh. Masruin berdiri sendiri di tepi pantai, punggungnya terguncang. Ia tahu, Aminah pergi bukan karena ingin, tapi karena hidup memaksanya.

Laut memang tetap tenang. Tapi di dalam hatinya baru saja diterpai badai.

Baca Lainnya

Yoga Prasetyo, Anak PRT Migran Indonesia Raih Beasiswa Doktor di University of Oxford

29 Oktober 2026 - 11:33 WIB

Aksi Petani Global di Bangkok: SPI dan La Via Campesina Suarakan Penghapusan Utang Luar Negeri

17 Oktober 2026 - 22:29 WIB

Ketum SPKP PP, Nursalim, Apreseiasi Keberhasilan Diplomat Selamatkan dan Pulangkan Awak Kapal Migran

10 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Usung Nilai Siri’ na Pacce, Firman Hermanda Siapkan 3 Program Prioritas 100 Hari Kerja PBM Sulsel

25 September 2026 - 17:36 WIB

Risiko Berlapis PMI Non-Prosedural Hamil di Luar Negeri: Minim Medis dan Dokumen Rumit

8 Juli 2026 - 09:08 WIB

Trending di Arab Saudi