Inggris — Nama Yoga Prasetyo (31) kini tercatat sebagai salah satu mahasiswa Doctor of Philosophy (DPhil/S3) di bidang Geografi dan Lingkungan, University of Oxford, Inggris, untuk periode 2026–2029.
Pemuda asal Tulungagung Jawa Timur ini berhasil menembus universitas peringkat nomor satu di dunia versi Times Higher Education (THE) World University Rankings. Keberhasilan tersebut ia raih melalui beasiswa penuh yang sangat kompetitif, Clarendon Scholarship.
Di kampus yang telah melahirkan 70 pemenang Nobel dan 50 kepala negara tersebut, Yoga membawa misi kemanusiaan yang dekat dengan akar kehidupannya.
Teliti Nasib Anak Migran Undocumented di Malaysia
Di bawah bimbingan Prof. Alexander Vasudevan di School of Geography and the Environment, Oxford, proyek penelitian doktoral Yoga bertajuk “Infrastructuring irregular children in urban Malaysia”.
Riset ini membedah nasib anak-anak pekerja migran asal Indonesia dan Filipina yang berstatus undocumented (tanpa dokumen resmi atau tanpa kewarganegaraan) di Sabah, Malaysia. Secara khusus, Yoga meneliti keberadaan sekolah-sekolah alternatif yang membatasi usia belajar anak-anak Pekerja Migran hanya sampai 15 tahun.
Melalui studi ini, ia menganalisis titik temu antara rezim imigrasi, kebijakan pendidikan, dan gerakan kemanusiaan yang melahirkan paradoks status legalitas serta ilegalitas bagi anak-anak tersebut, sekaligus merekam cara mereka menavigasi masa depan saat melangkah dewasa.
Rekam Jejak Akademik dan Prestasi di Inggris
Keberhasilan Yoga menembus Oxford bukan datang secara tiba-tiba. Sebelum memulai program doktor, ia telah mengukir deretan prestasi akademik bergengsi. Misalnya pernah menjadi Asisten Peneliti di National University of Singapore (NUS). Ia meningkatkan keilmuannya sebagai Asisten Peneliti di Asia Research Institute (ARI).
Magister (S2) di University of Sussex
Yoga menempuh studi Master of Arts (MA) bidang Migration Studies di Inggris menggunakan beasiswa Chevening. Pada saat itu ia meraih tiga penghargaan tesis terbaik.
Tesis magisternya mengenai tata kelola pekerja konstruksi pekerja migran di Singapura meraih tiga penghargaan tesis terbaik tingkat nasional di Inggris, termasuk dari UK Royal Geographical Society dan Development Studies Association.
Dan Pada Sarjana (S1) di Universitas Indonesia, Yoga, lulus dari program studi Sastra Inggris UI dengan predikat Cum Laude.
Latar Belakang: Tumbuh sebagai Left-Behind Child di Tulungagung
Semua pencapaian akademik internasional ini berakar dari kisah hidupnya di Desa Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Yoga tumbuh sebagai seorang left-behind child, anak yang dibesarkan di kampung halaman sementara orang tuanya bekerja di luar negeri.
Baru berusia dua tahun, Yoga harus berpisah dengan sang ibu yang berangkat ke Singapura demi menopang perekonomian keluarga. Selama 25 tahun, ibunya bekerja keras sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI/PRT), sementara Yoga kecil dirawat oleh paman dan bibinya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Ngunut jurusan IPS pada 2013, Yoga memutuskan merantau meninggalkan Tulungagung di usia 18 tahun untuk mengejar pendidikan tinggi.
Menyambung Takdir, Mengubah Realitas
Pengalaman tumbuh tanpa hadirnya orang tua secara fisik tidak dijadikan Yoga sebagai alasan untuk berhenti, melainkan menjadi bahan bakar perjuangan. Pilihan fokus penelitiannya di bidang studi migrasi merupakan bentuk penghormatan dan dedikasi nyata atas perjuangan panjang ibunya, serta jutaan keluarga pekerja migran Indonesia.
Dari pesisir Tulungagung hingga ruang-ruang kuliah bersejarah di Oxford, Yoga Prasetyo membuktikan bahwa suara dan kepedulian anak pekerja migran mampu memberi warna pada diskursus akademik tingkat dunia.









