Langit Hong Kong malam itu dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan. Namun, mata Fatimah, yang memandang dari jendela apartemen majikannya, hanya bisa melihat satu bintang yang paling terang—bintang yang membuatnya teringat pada anaknya di kampung. Sudah lima tahun ia menjadi buruh migran, dan lima tahun pula ia hanya bisa melihat anaknya melalui layar ponsel.
“Mak, kapan pulang?” Suara anak bungsunya, Reza, seakan terngiang-ngiang di telinganya. Fatimah mengusap layar ponsel yang menampilkan foto keluarga. Reza yang dulu masih balita, kini sudah duduk di bangku sekolah dasar. Wajahnya yang ceria membuat hati Fatimah terasa teriris.
Dering telepon memecah lamunan Fatimah. Telepon dari kampung. Suara ibunya terdengar berat. “Timah, Reza sakit. Sudah dua hari demam tinggi.”
Hati Fatimah bagai diiris sembilu. Ia ingin segera pulang, memeluk dan merawat anak bungsunya. Namun, ia tak bisa. Kontrak kerjanya masih satu tahun lagi. Majikannya, Nyonya Tan, adalah orang yang baik, tetapi Fatimah tahu ia tidak bisa melanggar kontrak.
Malam itu, Fatimah tidak bisa tidur. Ia teringat janji yang pernah ia ucapkan pada Reza. “Nanti kalau Mak pulang, kita main layangan lagi di sawah, ya.”
Keesokan harinya, Fatimah menceritakan semua pada Nyonya Tan. Dengan wajah penuh pengertian, Nyonya Tan memberinya izin untuk pulang, dengan syarat uang gajinya dipotong. Fatimah setuju. Hatinya yang hancur karena berita tentang Reza kini terasa lega.
Satu minggu kemudian, Fatimah tiba di kampung halamannya. Langkahnya terasa berat, bercampur haru dan bahagia. Ia melihat anak-anaknya di depan rumah. Reza terlihat pucat, tetapi matanya berbinar melihat kedatangan Fatimah.
“Mak!” Reza berhambur memeluk Fatimah. Fatimah tak bisa menahan air matanya. Ia menciumi anak-anaknya bergantian. Malam itu, Fatimah tidur sambil memeluk Reza. Ia tak peduli meskipun esok ia harus kembali ke Hong Kong.
Sebelum kembali ke Hong Kong, Fatimah mengajak anak-anaknya ke sawah. Ia membawa layangan yang sudah ia beli di kota. Langit sore itu cerah, angin bertiup kencang. Fatimah dan anak-anaknya bergantian menerbangkan layangan.
“Layangan ini, kalau diterbangkan, akan sampai ke Hong Kong, kan, Mak?” tanya Reza polos.
Fatimah tersenyum. “Iya, Nak. Nanti kalau kamu kangen Mak, terbangkan saja layangan ini. Angin akan menyampaikannya pada Mak.”
Saat ia kembali ke Hong Kong, Fatimah membawa kenangan layangan yang diterbangkan anak-anaknya di sawah. Ia tahu, meskipun jarak memisahkan mereka, cinta dan kerinduan akan selalu terikat, seperti layangan dan benangnya. Ia menguatkan hatinya, demi anak-anaknya, demi masa depan mereka. Ia akan terus berjuang, menanti hari di mana ia bisa kembali ke rumah untuk selamanya.













