Di sebuah kios kecil di pasar Tawang Wanggu, Sragen, setiap hari orang tuanya sibuk jualan tahu. Dari sanalah Aini tumbuh. Anak ketiga dari empat bersaudara ini belajar banyak tentang perjuangan hidup. Perjuangan pedagang kecil yang hidup pas-pasan. Dalam benaknya: impian tak akan datang sendiri, tapi harus dijemput dengan keberanian.
Usianya baru 19 tahun saat ia memutuskan pergi merantau. Malaysia menjadi langkah pertama. Dua tahun menjadi Pekerja Rumah Tangga, lalu lanjut ke Taiwan demi satu hal: menyelamatkan ayahnya yang terkena stroke. Seluruh gajinya ia kirimkan untuk pengobatan. Tapi takdir berkata lain—sang ayah berpulang sebelum Aini sempat memeluknya lagi. Luka itu dalam, tapi tak membuatnya patah hati.
Aini terus melangkah. 2005 dia bekerja di Hong Kong, lalu pulang, menikah, dan menjadi ibu. Kehilangan anak pertama membuatnya nyaris runtuh, tapi Tuhan menguatkannya dengan kehadiran anak kedua.
2016 dia kembali ke Hong Kong, kali ini dengan mimpi membangun rumah dan membuka usaha. Dari hasil usahanya itu dia telah membangun rumah dan sebuah usaha depot air minum ia dirikan di tahun 2021. Kini dikelola oleh sang suami. Usaha kecil itu adalah bukti bahwa kerja kerasnya tak pernah sia-sia.
Tahun 2023, Aini kembali ke Hong Kong. Bukan karena lelah hidup, tapi karena masih ada harapan yang ingin ia wujudkan. Ia ingin membuka usaha lagi, agar kelak di hari tua, ia tak hanya punya rumah, tapi juga usaha.
Di hari pahlawan ini, Aini memang tak pernah berdiri di podium, tak pernah disebut dalam pidato kenegaraan. Tapi setiap langkahnya adalah perjuangan. Ia adalah pahlawan keluarga—yang bertarung demi keutuhan dan kesejahteraan keluarganya.












