Siti Hotima, korban penempatan ilegal dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) mengungkap dalang perekrutan ke Oman dan Irak. Hal ini disampaikannya melalui pesan tertulis Whatsapp pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurut Siti, pelaku penempatan ilagal itu adalah Abu Khaled yang merupakan bos dari Umam, Samhariyadi dan Yulia Rohman.
“Video ini penyerahan saya dan teman saya ke pak Abu Khaled. Saya di antar oleh sopir, pak Umam, sopir PT Timurraya Jaya Lestari. Saya diserahkan oleh sponsor Samhariyadi di rumah Abu Khaled di Bogor. Mereka merima transfer uang dari Abu Khaled,” ujarnya
Diteruskan, Setelah mereka pulang (Umam dan Samhariyadi), lalu Abu Khaled menunjukkan tanda buktinya kepada saya
“Transfernya Rp10 juta kepada pak Umam,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Siti mengungkapkan bahwa pak Umam tidak jujur mendapatkan transfer uang sebesar Rp10 juta dari Abbu Khaled.
“Dia bilangnya cuma satu juta, tapi Abu Khaled ngasih tahu kepada saya mentransfer Rp10 juta. Setelah itu pak Umam memberikan uang tersebut kepada Samhariyadi,” jelasnya.
Handphone di Banting
Selain itu Siti juga menjelaskan jika, sebenarnya dia banyak menyimpan foto dan video pada saat ditampaung di rumah Abu Khaled. Tetapi banyak dihapus dan bahkan ponselnya di banting oleh agensi Omar Rashid.
“Pada saat kerja di Oman saya minta pulang ke KBRI tetapi majikan tidak mau. Akhirnya saya dibawa ke agensi. Sampai di agensi handpone saya langsung diambil lalu dibanting. Dokumen saya disobek. Bukti-bukti dirampas. Saya di marahi habis habisan di depan majikan,” katanya
Ditambahkan, semua isi handpone saya dicek satu-satu, dirampas sampai 30 hari. Begitu juga dengan buku telephone. Kemudian agensi menyembunyikannya di gedung paling tinggi sendirian. Kemudian memindahkan lagi ke rumah staf agensi lain yang bernama Muhammad. Dia di sembunyikan lagi di gedung paling tinggi sendirian tanpa akses tidak ada teman .
“Setelah itu saya di paksa bekerja di Irak . Saya tidak mau . Tapi tetap dipaksa . Saya bilang saya mau pulang.Kata agensi Oman tidak boleh. Kamu harus bekerja 2 tahun di Irak,” katanya menirukan ucapan staf agensi.
Siti mengaku bersyukur karena setelah staf agensi membanting ponsel dan merampasnya, lalu memberikan lagi kepadanya, handphone masih hidup dan sebgaian datanya terselematkan.
“Ternyata handpone saya masih hidup . Saya sujud syukur karena bukti ada di handpone meskipiun sebagian data pentingnya hilang,” pungkas Siti Hotima.









