Menu

Mode Gelap
Masuk Kabinet, Persatuan Buruh Migran Sebut Said Iqbal Penuhi 4 Syarat ‘Manusia Politik’ SPKP, Disnaker Tegal dan KP2MI Akan Gelar Sosialisasi Penempatan Awak Kapal Migran Berkat Gotong Royong, Nunung, Pekerja Migran Karawang yang Stroke di Taiwan Akhirnya Bisa Pulang 4 Usulan Perpemindo untuk Perbaikian Permen P2MI Tentang Tata Cara Pelakanaan Penempatan PMI Tiga Asosiasi P3MI Desak Revisi Dua Permen P2MI: Pelaksanaan Penempatan dan Persyaratannya Marak Penipuan Loker Luar Negeri, Aktivis Tuntut Pemerintah Tegas Bubarkan LPK

Berita

Geger! PMI Rawamerta Karawang Lompat dari Lantai 3 Perusahaan Scam Online Kamboja

badge-check


					Ilustrasi Jajat jatuh dari Lantai 3 Perusahaan Scamming Online Perbesar

Ilustrasi Jajat jatuh dari Lantai 3 Perusahaan Scamming Online

Karawang – Kisah tragis seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Karawang yang menjadi korban kekejaman sindikat scamming online di Poipet, Kamboja.

Korban bernama Jajat (23) dikabarkan mengalami luka parah hingga lumpuh setelah nekat turun dari lantai tiga demi meloloskan diri dari siksaan di gedung perusahaan maut tersebut.

Kisah tragis ini diungkap oleh sang istri, Julfa (21), warga Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang. Dengan derai air mata, Julfa mengadukan nasib malang suaminya yang kini terlunta-lunta dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Tergiur Kerja di Kamboja, Berujung di Neraka Scamming

Julfa menceritakan bahwa petaka ini bermula pada November 2025 lalu saat suaminya memutuskan berangkat ke Kamboja bersama dua orang temannya yang juga sesama warga Karawang.

“Awalnya suami saya bekerja di perusahaan judi online (judol) di Kamboja. Namun setelah kurang lebih dua bulan bekerja, dia merasa tidak cocok dan memutuskan untuk keluar,” ujar Julfa saat memberikan keterangan pada 12 Mei 2026.

Bukannya terbebas, Jajat justru masuk ke jurang penindasan yang lebih dalam. Ia mendapat tawaran pekerjaan baru di sebuah perusahaan yang ternyata merupakan sindikat penipuan online (scamming) internasional di wilayah Poipet, Kamboja.

Kerja di Bawah Tekanan dan Ancaman Setrum Jika Gagal Target

Di perusahaan scamming baru inilah penderitaan Jajat dimulai. Julfa mengungkapkan bahwa suaminya dipaksa bekerja di bawah tekanan yang sangat tidak manusiawi.

Beban kerja berat, wajib memenuhi target penipuan yang mustahil. Siksaan fisik, jika target tidak tercapai. Penyiksaan, mulai dari dipukuli hingga disetrum menggunakan alat listrik,” ungkapnya

Detik-Detik Pelarian Maut Menggunakan Kain Sprei

Karena sudah tidak tahan dengan siksaan yang diterima setiap hari, Jajat memutuskan untuk kabur. Pada suatu malam, ia nekat mengikat kain sprei jendela dan mencoba turun dari lantai tiga gedung perusahaan.

Namun nahas, tali sprei tersebut tidak kuat menahan bebannya. Hingga akhirnya Jajat terjatuh dari ketinggian hingga menghantam landasan beton. Akibat benturan keras itu, Jajat mengalami cedera pada kakinya hingga tidak bisa bangun sama sekali.

Ditangkap Security, Dipukuli Pipa Besi Tanpa Ampun

Bukanya mendapat pertolongan, aksi pelarian Jajat yang gagal itu justru diketahui oleh pihak keamanan (security) perusahaan. Jajat yang sudah tidak berdaya diseret kembali ke dalam gedung. Di sana, ia justru dihakimi secara brutal.

“Di dalam perusahaan, dia disiksa lagi. Ditendangi dan dipukuli dengan menggunakan pipa besi. Security itu memukul bagian paha sampai betis kakinya tanpa ampun,” ungkap Julfa dengan nada bergetar.

Terlunta-lunta di Kamboja, Keluarga Berharap Bantuan Evakuasi

Beruntung, melihat kondisi Jajat yang sudah kritis dan tidak lagi “berguna” untuk bekerja, pihak perusahaan akhirnya membuang Jajat keluar.

Dalam kondisi sekarat, Jajat berhasil menghubungi dan mengadu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh. Pihak KBRI langsung bergerak cepat dan mengevakuasi Jajat ke rumah sakit setempat. Namun, masalah baru muncul.

Suami saya harus operasi besar, tim medis Kamboja menyatakan Jajat harus segera menjalani operasi besar pada bagian kaki dan tulangnya. Tapi biaya rumah sakit di Kamboja sangat mahal dan di luar kemampuan keluarga. Satu-satunya Jalan, suami saya menolak operasi di sana dan memohon untuk bisa dipulangkan ke Indonesia agar bisa berobat di kampung halaman,” jelasnya.

Kini, Julfa dan keluarga di Karawang hanya bisa berharap adanya mukjizat dan uluran tangan dari pemerintah daerah maupun pusat untuk membantu biaya pemulangan serta pengobatan suaminya yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja.

Baca Lainnya

Masuk Kabinet, Persatuan Buruh Migran Sebut Said Iqbal Penuhi 4 Syarat ‘Manusia Politik’

7 Juni 2026 - 17:54 WIB

SPKP, Disnaker Tegal dan KP2MI Akan Gelar Sosialisasi Penempatan Awak Kapal Migran

6 Juni 2026 - 11:13 WIB

Berkat Gotong Royong, Nunung, Pekerja Migran Karawang yang Stroke di Taiwan Akhirnya Bisa Pulang

5 Juni 2026 - 10:24 WIB

4 Usulan Perpemindo untuk Perbaikian Permen P2MI Tentang Tata Cara Pelakanaan Penempatan PMI

4 Juni 2026 - 10:09 WIB

Pengurus Perpemindo mengusulkan perbaikan Permen P2MI No. 2 Tahun 2026 Tentang Tata Cata Penempatan oleh Pelaksana Penempatan

Tiga Asosiasi P3MI Desak Revisi Dua Permen P2MI: Pelaksanaan Penempatan dan Persyaratannya

3 Juni 2026 - 22:12 WIB

Trending di Berita