Namanya Nurhayati, gadis asal Subabumi. Sejak ayahnya meninggal, ia ingin cepat-cepat membantu ibunya yang hidup dari berjualan nasi uduk pagi dan gorengan di depan rumah. Tapi dia bingung dengan cara bagaimana. Mau bertani tidak punya lahan. Jadi buruh pabrik harus bayar jutaan. Huh..
Ketika melihat tetangganya pulang dari luar negeri membeli motor baru dan membangun rumah bata merah, hati Nur bergetar.
“Kalau aku kerja di luar negeri, pasti bisa bantu Ibu lebih cepat,” pikirnya.
Maka ketika seorang calo datang ke desanya menawarkan keberangkatan kilat, Nur langsung tergoda.
“Tidak perlu pelatihan, tidak perlu tes bahasa. Dua minggu langsung terbang!” kata calo itu dengan yakin.
Calo itu juga memberikan uang merah. “Nanti jika kamu fit, saya kasih lagi 4 juta,” tegasnya,
Nur tak berpikir panjang. Ia ingin cepat berangkat, cepat kerja, cepat dapat uang. Ia menandatangani berkas yang tak ia baca, percaya begitu saja pada janji manis orang yang baru dikenalnya itu.
Beberapa minggu kemudian, Nur sudah tiba di Erbil Irak yang bahasanya tidak ia pahami. Rumah majikannya besar, berlantai tiga. Dikelilingi tembok pagar yang tingi. Setiap hari ia bekerja sejak subuh—menyapu, mencuci, memasak—mandiin anak dengan perasaan takut salah. Ia hanya menebak-nebak maksud perintah dari gerak tangan majikan.
Suatu pagi, majikannya menyuruhnya menyiapkan makanan tertentu. Nur tak mengerti kata yang diucapkan, ia salah masak. Ketika makanan itu dihidangkan, wajah majikan berubah murka. Suaranya meninggi, kata-katanya seperti hujan batu yang menghantam telinga Nur.
Nur mencoba menjelaskan, tapi bahasanya patah-patah, tak dimengerti. Majikan semakin marah, lalu menampar, memukul dan menendang tubuh Nur keras-keras. Ada luka lebam membekas disekujur tubuhnya. Ia hanya bisa diam dan bertahan. Tubuhnya gemetar, air matanya menetes tanpa suara.
Hari itu, Nur belajar satu hal yang pahit: tidak terampil itu bisa jadi menderita.
Malamnya, ia menatap cermin kecil di kamar sempit. Wajahnya lebam, tapi yang lebih sakit adalah hatinya. Ia menatap foto ibunya di dompet dan berbisik pelan,
“Emak, Nur salah. Nur bego. Nur pengen pulang mak,” katanya tersedu sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Nur ingin menelpon emaknya, tapi ponselnya diumpetin madam. Nur hanya bisa pasrah tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiga bulan kemudian, karena dianggap tidak becus bekerja, Nur akhirnya dipulangkan. Ia kembali ke Sukabumi dengan tubuh yang kurus, wajah pucat dan tangan kosong—tanpa membawa uang.
Pengalaman mengajarkan, bekerja tanpa persiapan hanya membawa penyesalan dan luka yang masih membiru.
Namun di kampung, Nur tak menyerah. Ia rajin belajar bahasa melalui saluran Youtube. Karena di desanya tidak ada pelatihan bahasa. Lembaga pelatihan adanya di kota-kota besar. Ia rajin mendengarkan, mencatat, dan perlahan mulai bicara tentang pengalamannya.
Setiap kali ada yang berkata ingin cepat berangkat, Nur menatap mereka dalam-dalam dan berkata:
“Aku dulu juga ingin cepat. Tapi karena tidak terampil bahasa dan kerja, aku jatuh. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Belajar dulu, biar kamu punya keterampilan bahasa dan kerja.”
Kini Nur tak lagi ingin cepat berangkat. Ia ingin terampil dulu, karena sekarang ia tahu, bekerja di negeri orang itu bukan sekadar cepat terbang dan dapat uang, tapi soal keterampilan sehinnga dapat bekerja dengan layak dan upah layak.













