Tangerang – Suasana haru menyelimuti area kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta, Kamis sore (19/03/2026). Di tengah hiruk-pikuk penumpang yang berlalu-lalang, sebuah pertemuan penuh emosi terjadi sekitar pukul 15.00 WIB.
Muklas (21), salah satu pemuda yang menjadi korban sindikat perusahaan penipuan online (online scam) di Kamboja, akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Kepulangannya disambut langsung oleh kedua orang tuanya, Nurdin dan Sobarih, yang telah menunggu sejak siang hari dengan raut wajah cemas sekaligus rindu.
Pelukan Orang Tua
Begitu sosok Muklas muncul dari pintu keluar, suasana seketika berubah hening bagi keluarga kecil ini. Tak ada teriakan histeris, hanya ketegangan emosional yang memuncak. Ketiganya tampak berusaha keras membendung air mata agar tidak tumpah di depan publik, meski kelopak mata mereka sudah memerah dan berkaca-kaca.
Nurdin, sang ayah, langsung merengkuh Muklas dari sisi kanan. Tangannya yang kasar mendekap erat pundak sang putra, seolah ingin memastikan bahwa anaknya kini benar-benar telah aman. Di saat yang sama, Sobarih, sang ibu, memeluk Muklas dari sisi kiri sambil menyandarkan kepalanya di bahu putranya.
“Ini Muklas sekarang sudah pulang, sudah ketemua orang tuanya, dan sekarang sudah mau langsung jalan pulang,” ujar kakaknya Bayu yang mendokumentasikan momen haru tersebut.
Lebih Kurus
Muklas, yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya, hanya bisa tertunduk diam dalam dekapan kedua orang tuanya. Sebagai korban penipuan perusahaan ilegal, perjalanan pulang ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan akhir dari masa-masa sulit yang penuh tekanan mental.
Meski berusaha tampil tegar, getaran bahu Muklas saat dipeluk kedua orang tuanya menunjukkan betapa berat beban yang selama ini ia pikul sendiri di negeri orang.
Pertemuan singkat namun dalam itu menjadi pemandangan yang menyentuh hati para pengguna bandara lainnya yang sempat melintas.
Kini, Muklas telah kembali ke tengah keluarga. Mereka langsung bertolak menuju kediamannya di Sunter Jakarta Utara.
“Assalamu alaikum, saya Muklas, saya ingin berterima kasih kepada para donatur Jarnas Anti TPPO yang telah memulangkan saya, sekarang saya sudah ada dirumah, sekian dari saya, wassalamu alaikum waroh matullahi wa barokatuh,” pungkasnya.
Berdasarkan catatan Persatuan Buruh Migran (PBM) Sebelumnya, Muklas direkrut oleh seseorang yang menjanjikan kerja sebagai operator komputer di Filipina dengan gaji dua kli lipat dari UMP Jakarta. Namun pada September 2025 dia diberangkatkan ke Kamboja. Dia dipekerjakan di perusahaan penipuan online. Muklas yang tidak biasa menipu, tidak pernah mencapai target perusahaan. Sehingga setiap bulan harus menerima konsekwensi di pukul pakai rotan.
Setelah perusahaan dibubarkan, Muklas masih menerima perlakuan buruk dari teman-temannya. Salah satunya harus minta transferan secara rutin dari orang tuanya, untuk makan minum.









