Menu

Mode Gelap
Mabes Polri dan Dirjen Imigrasi Tangkap 251 Warga Asing Pelaku Penipuan Online Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan Dialog Multi Pemangku Kepentingan: Membuka Jalan Perekrutan yang Adil dan Etis Menteri Mukhtarudin Gunakan Formula 60:40 Dalam Pelindungan dan Penempatan Pekerja Migran Yuswati, PMI Simpenan Sukabumi Kritis di Abu Dhabi, Keluarga Mohon Bantuan Pemulangan Akibat Ditempatkan Ilegal, Ahli Waris Tidak Dapat Santunan Kematian Rp100 juta

Berita

Toko Indo Allena Tolak Bantu Biayai Kesehatan PMI Kaburan di Taiwan: “Ada Bahaya Moral”

badge-check


					Allena owner Toko Indo Allena | Sumber Dokumen Allena Perbesar

Allena owner Toko Indo Allena | Sumber Dokumen Allena

Taipei – Toko Indo Allena, salah satu pusat komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, menyatakan tidak lagi memberikan bantuan kesehatan bagi PMI kaburan atau yang sering disebut dengan istilah “PMI swasta” yang mengalami sakit.

Keputusan ini diambil karena adanya keterbatasan dana serta kekhawatiran munculnya bahaya moral atau moral hazard di kalangan PMI. Hal tersebut disampaikan oleh pengelola Toko Indo Allena, dalam rilis resmi pada Jumat, 26 Desember 2025.

Menurutnya, penolakan bukan karena tidak tega. Melainkan karena pola pikir di sebagian PMI kaburan, meskipun kaburan ketika sakit  pasti ada pihak yang akan membantunya.

“Seolah ada pikiran, tenang saja kalau sakit nanti ada Toko Indo Allena yang akan menolong. Cara berpikir seperti itu jangan dipakai, itu moral hazard” tegas Allena.

Selain itu, Toko Indo Allena juga membantu pemerintah kedua negara Taiwan dan Indonesia dalam menekan angka kaburan itu sendiri. Karena ketika menjadi kaburan mereka benar-benar kehilangan hak-haknya sebagai pekerja. Baik secara hukum dan juga kesehatan. Terutama di Taiwan, negara tujuan mereka bekerja.

 Dana Terbatas, Permintaan Membeludak

Allena mengakui pihaknya menerima sumbangan dari para donatur, namun jumlahnya terbatas. Sementara itu, setiap hari ada puluhan permintaan bantuan yang masuk. Kondisi ini membuat pihaknya harus selektif dan berhati-hati dalam menyalurkan bantuan.

Ia menyoroti bahwa PMI swasta umumnya memiliki gaji lebih besar dibanding PMI reguler, namun tetap berani mengambil risiko kabur tanpa menyiapkan tabungan.

“Pas gajian lupa nabung. Tidak memperhitungkan risiko. Pas sakit, seolah-olah sakit kalian jadi kewajiban orang lain,” ujarnya.

 Keluhan atas Sikap PMI

Selain keterbatasan dana, Allena juga mengeluhkan sikap sebagian PMI yang meminta bantuan dengan nada kasar dan memaksa. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai motivasi mereka bekerja ke Taiwan.

“Apakah pindah negara hanya untuk merepotkan orang lain? Seharusnya ketika memutuskan kabur sudah tahu risiko dan mitigasinya,” jelasnya.

 Pesan untuk PMI Kaburan

Allena mengingatkan agar PMI kaburan berani bertanggung jawab atas keputusan mereka. Ia mendorong agar mereka menabung sebanyak mungkin, mempersiapkan masa depan, dan pulang dengan bekal cukup untuk membuka usaha di tanah air.

“Janganlah seperti anak-anak. Menabunglah sebanyak-banyaknya. Kalau sudah cukup untuk pensiun, pulanglah dan jadilah juragan di negerimu sendiri,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Mabes Polri dan Dirjen Imigrasi Tangkap 251 Warga Asing Pelaku Penipuan Online

9 Mei 2026 - 15:15 WIB

Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan

8 Mei 2026 - 15:36 WIB

Dialog Multi Pemangku Kepentingan: Membuka Jalan Perekrutan yang Adil dan Etis

7 Mei 2026 - 21:45 WIB

Menteri Mukhtarudin Gunakan Formula 60:40 Dalam Pelindungan dan Penempatan Pekerja Migran

7 Mei 2026 - 19:53 WIB

Yuswati, PMI Simpenan Sukabumi Kritis di Abu Dhabi, Keluarga Mohon Bantuan Pemulangan

6 Mei 2026 - 14:55 WIB

Trending di Abu Dhabi UEA