Menu

Mode Gelap
Pelaksanaan Amalan Sunnah Menghidupkan Suasana Idul Fitri Momen Kepulangan Muklas, Korban Perusahaan Penipuan Online Jarnas Anti TPPO dan PBM Akan Pulangkan PMI dari Kamboja Ketua Komisi 3 DPRD Karawang Akan Pulangkan PMI Dari Kamboja Pembangunan Masjid As-Sholihin Yokohama Jepang Capai 86% KUR Penempatan PMI: Solusi atau Kegagalan Kebijakan?

Cerita Pendek

Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi

badge-check


					Malam Terakhir Sebelum Kepergian Ibu ke Arab Saudi Perbesar

Angin malam berhembus kencang. Lampu gantung di langit-langit rumah itu bergoyang-goyang, cahayanya menimpa wajah seorang perempuan paruh baya yang sedang melipat pakaian ke dalam koper tua. Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia empat belas tahun duduk diam sambil menatap ibunya.

Raka: “Bu…”

Ibu: “Iya, Nak?” (menoleh sambil tersenyum lembut)

Raka: “Kenapa sih kita miskin? Sampai Ibu harus jauh-jauh ke Arab buat kerja? Aku kan sedih akan ditinggal ibu?”

Ibu berhenti melipat bajunya. Matanya menatap kosong ke arah lantai tanah yang retak. Suaranya pelan tapi berat.

Ibu: “Karena, Nak… kita sudah nggak punya sawah lagi. Dulu, waktu kamu kecil, kita masih punya sepetak sawah peninggalan kakekmu. Tapi sekarang… sudah nggak ada.”

Raka: (mengernyit) “Kenapa bisa nggak ada, Bu? Kan dulu panennya bagus?”

Ibu: (menarik napas panjang) “Panen memang bagus, Nak. Tapi harga gabahnya murah. Hasil panen nggak cukup buat nutup biaya pupuk, pestisida, sama bayar air irigasi. Petani kecil seperti kita tetap rugi. Akhirnya sawah dijual buat makan sehari-hari.”

Raka terdiam. Ia menciumi tangan ibunya yang kasar, ada bekas luka terkena sabit. Namun Raka tidak peduli. Terus menciuminya.

Raka: “Kata konten Tiktok, pemerintah itu punya banyak lahan. Jutaan hektar diberikan kepada  pengusaha. Kenapa bukan buat keluarga petani kayak kita aja, Bu?”

Ibu tersenyum pahit. Ia menutup kopernya perlahan.

Ibu: “Orang kecil siapa yang peduli. Kalaupun ada omongnya, paling janji kampanye. Ya kita cuma bisa berharap, suatu hari nanti, ada pemimpin yang benar-benar berpihak pada orang kecil. Mau ngasih lahan kepada para petani gurem.”

Raka menatap wajah ibunya lama-lama, matanya berkaca-kaca.

Raka: “Bu, kalau nanti Ibu udah di Arab, Raka boleh video call, kan?”

Ibu: (terharu, menahan tangis) “Boleh, Nak. Ibu janji. Tapi Raka juga janji ya, jangan malas belajar. Biar jadi pemerintah. Bisa ngasih lahan kepada para petani gurem. Bukan pengusaha saja.”

 

Baca Lainnya

Sammi, Pekerja Migran Tangguh dari Cilacap, Sekolahkan Anaknya Hingga ke Pendidikan Tinggi

1 Februari 2026 - 15:51 WIB

Indonesia Anti-Scam Centre Kembalikan Rp161 Miliar Dana Korban Penipuan Digital

23 Januari 2026 - 23:13 WIB

Kejatuhan Sang Raja Tipu Kamboja: Kebangkitan dan Runtuhnya Kejayaan Chen Zhi

21 Januari 2026 - 16:16 WIB

Mbok Cikrak dan Toko Indo Allena Galang Dana Solidaritas untuk Iin Budianti

16 Januari 2026 - 07:57 WIB

PSP Indonesia Goes To School: Edukasi Migrasi Kerja Aman di SMK Wirabahari Pekalongan

15 Januari 2026 - 17:10 WIB

Trending di Berita