Jakarta – Delegasi Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat pelindungan Pekerja Migran pada Sidang Pleno Kedua Forum Tinjauan Migrasi Internasional atau International Migration Review Forum (IMRF) 2026 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dari tangal 4 sampai dengan 8 Mei 2026 di New York.
Ketua Umum Persatuan Buruh Migran, Anwar Ma’arif, mengulas hubungan erat antara IMRF dengan Pakta Global untuk Migrasi yang Aman, Tertib, dan Teratur (Global Compact on Migration)
Mengenal Global Compact on Migration (GCM)
Anwar menjelaskan bahwa pondasi utama dari pelindungan migran saat ini adalah Global Compact for Safe, Orderly and Regular Migration (GCM).
GCM merupakan perjanjian antar-pemerintah pertama yang dinegosiasikan secara global di bawah naungan PBB untuk mencakup semua dimensi migrasi internasional.
“GCM lahir dari sejarah panjang. Dimulai dari Deklarasi New York 2016, lalu melalui negosiasi intensif selama 18 bulan, hingga akhirnya diadopsi di Marrakesh pada Desember 2018,” jelas Anwar pada Minggui, 10 Mei 2026.
Pakta ini berisi 23 tujuan utama, termasuk rekrutmen yang adil (Tujuan 6) dan pemenuhan hak layanan dasar (Tujuan 15), guna memastikan migrasi tidak lagi menjadi beban, melainkan kekuatan pembangunan.
IMRF: Mekanisme Kontrol Komitmen Internasional
Guna memastikan 23 tujuan GCM tersebut tidak sekadar menjadi catatan di atas kertas, lalu dibentuklah International Migration Review Forum (IMRF). Anwar menjelaskan bahwa IMRF adalah platform utama bagi negara-negara anggota PBB untuk meninjau kemajuan implementasi GCM.
“Apa yang melatarbelakangi adanya IMRF? Kesadaran bahwa janji global butuh evaluasi berkala. IMRF diselenggarakan setiap empat tahun sekali sebagai forum pertanggungjawaban dunia,” tegasnya.
Kegiatan utama dalam IMRF meliputi:
- Diskusi Panel Tematik: Mengevaluasi pencapaian 23 tujuan GCM.
- Debat Umum: Penyampaian laporan kemajuan sukarela dari tiap negara.
- Progress Declaration: Penyusunan deklarasi bersama sebagai panduan aksi empat tahun ke depan.
- Dialog Multi-Pihak: Melibatkan serikat buruh dan masyarakat sipil untuk memberikan masukan kritis.
Kekuatan Diplomasi: 193 Negara Bersuara
Hingga penyelenggaraan IMRF pada Mei 2026 ini, Anwar mencatat dukungan internasional yang sangat masif. Seluruh 193 negara anggota PBB kini terlibat aktif dalam konsensus global tersebut.
“Saat ini, dukungan tidak lagi terpecah. 193 negara anggota PBB telah menyepakati deklarasi kemajuan di forum ini. Bahkan, kini terdapat kelompok 42 negara Champion GCM, termasuk Indonesia, yang menjadi garda terdepan dalam mempraktikkan tata kelola migrasi terbaik,” tambah Anwar.
Harapan bagi Indonesia
Sebagai penutup, Anwar Ma’arif menekankan bahwa status Indonesia sebagai negara Champion harus dibuktikan dengan sinkronisasi aturan nasional. Ia berharap hasil dari IMRF 2026 ini segera diintegrasikan ke dalam kebijakan perlindungan di dalam negeri guna menghapus praktik perdagangan orang dan biaya rekrutmen yang tinggi.
“IMRF adalah kompas global kita. Dengan keterlibatan hampir seluruh dunia, kita punya posisi tawar yang kuat untuk menuntut perlindungan maksimal bagi pahlawan devisa kita di mana pun mereka berada,” pungkasnya.









