Irak — Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu bernama Koidah kini bernasib tragis di luar negeri.
Melalui sebuah rekaman video yang menyayat hati, ia memohon pertolongan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar bisa segera membantu memulangkan ke tanah air.
Koidah mengaku terjebak di Irak dalam kondisi psikologis yang hancur setelah satu tahun dipaksa bekerja tanpa menerima upah sepeser pun.
Nasib malang Koidah bermula pada tanggal 13 Juli 2025, saat dirinya diberangkatkan menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) melalui perantara seorang sponsor lokal bernama Pak Sadul dari Laranganjambe, Kecamatan Kertasemaya, Indramayu.
Setibanya di Abu Dhabi pada 14 Juli 2025, mimpi Koidah untuk memperbaiki taraf hidup keluarga justru berubah menjadi eksploitasi yang panjang.
Dioper dari Majikan ke Majikan Tanpa Digaji
Pada bulan pertama bekerja di majikan pertama di Abu Dhabi, Koidah sama sekali tidak menerima upah. Pihak agensi kemudian memindahkannya ke agen lain di Ajman, Dubai.
Di sana, gajinya ditahan selama kurang lebih tiga bulan, dan di bawah pengawasan ketat. Selama periode tersebut, hak komunikasinya diputus total karena telepon genggam miliknya disita oleh pihak agensi.
Penderitaan Koidah semakin berlapis saat agen tersebut menawarkan kesempatan kerja ke Turki. Namun, janji tinggal janji. Koidah justru diselundupkan dan ditempatkan ke wilayah Irak.
Pihak agensi sempat membujuknya dengan berjanji akan membayar penuh semua tunggakan gajinya selama empat bulan di Dubai jika ia bersedia berangkat ke Irak.
“Beliau menjanjikan kepada saya, apabila saya mau berangkat ke negara lain negara Irak, beliau berjanji kalau saya sudah sampai ke negara Irak, beliau akan membayar gaji saya di Dubai selama kurang lebih empat bulan. Sampai di negara Irak saya bekerja selama dua bulan di rumah majikan, saya cuma satu bulan menerima gaji,” ungkap Koidah dengan nada bergetar.
Kondisi kerja di Irak pun dinilai tidak manusiawi. Koidah dipaksa mengurus tiga rumah sekaligus seorang diri.
Karena keterbatasan fisik dan beban kerja yang ekstrem, ia menyatakan ketidaksanggupannya dan minta dikembalikan ke kantor agensi. Namun bukannya dipenuhi, malah gajinya kembali dipangkas.
Kembali lagi ke majikan yang sama pun setali tiga uang, Koidah kembali dipaksa bekerja selama dua bulan terakhir tanpa menerima upah.
“Bulan ini saja saya sudah dua bulan tidak menerima gaji sepeser pun. Saya sudah nggak sanggup lagi, mental saya tidak kuat lagi di sini,” ratapnya.
Ibunya yang Lumpuh Terpaksa Mengemis untuk Makan
Hal yang paling menghancurkan batin Koidah saat ini bukanlah rasa lelah fisiknya, melainkan kondisi keluarga yang ditinggalkannya di kampung halaman.
Koidah merupakan tulang punggung tunggal bagi ibunya yang saat ini sedang menderita lumpuh, dan seorang anak berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku sekolah yang sangat membutuhkan biaya hidup.
Akibat gajinya yang terus ditahan oleh para majikan dan agensi di Timur Tengah, Koidah tidak mampu mengirimkan uang ke Indramayu. Kabar memilukan dari rumahnya membuat pertahanan psikologis Koidah runtuh sepenuhnya.
“Saya mendengar ibu saya nggak bisa membeli makanan, mereka hanya bisa mengharap bantuan dari tetangga hanya untuk bisa makan. Ibu saya ngemis ke orang-orang, mencari pinjaman, hanya untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya sembari menangis dan menutup matanya.
Lima Bulan Upaya, Masih Menemui Jalan Buntu
Sebelum video ini beredar luas, Koidah mengaku telah menempuh jalur formal dengan menghubungi Kepala Desa (Lurah) Tanjakan, Kecamatan Krangkeng, Indramayu.
Pihak pamong desa kemudian menyambungkan komunikasi tersebut kepada seseorang bernama Pak Casman untuk memproses kepulangannya.
Namun, hingga kini, upaya penanganan tersebut sudah berjalan selama lima bulan belum mendapatkan perkembangan baik.
Merasa jalurnya buntu dan waktu semakin menghimpit keselamatan fisiknya serta kelangsungan hidup keluarganya, Koidah akhirnya memutuskan untuk bersuara lewat media sosial.
Di akhir pesannya, ia meminta kepada seluruh masyarakat yang melihat videonya untuk menyebarluaskan informasi ini agar bisa segera direspons oleh pemangku kebijakan tertinggi di Indonesia.
“Saya mohon kepada Bapak Presiden, Bapak Prabowo, untuk bisa bantu saya segera memulangkan kembali ke Indonesia. Saya juga mohon kepada Gubernur, Bapak KDM Bapak Dedi Mulyadi, saya mohon bantu saya segera pulang,” pungkasnya penuh harap.
Menanggapi hal tersebut, aktivis Indramayu, Carkaya, akan melakukan upaya bersama dengan Persatuan Buruh Migran Indramayu, agar bisa membantu memenuhi haknya dan tuntutannya.
“Saya menduga adanya penempatan ilegal yang melanggar Undang Undang No. 18 Tahun 2017 Tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, antara lain: penempatan oleh orang perseorangan, tanpa kelengkapan dokumen dan penempatan ke negara yang dinyatakan tertutup, seperti Irak dan Uni Emirat Arab,” tegasnya.
Oleh karena itu, dia akan smenyampaikan persoalan ini instansi terkait yang berwenang, dalam hal ini, Dinas Ketenagakerjaan. Bahkan bila perlu kepada Bupati Lucky Hakim.









