Menu

Mode Gelap
IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI Ketum Aspataki Saiful Mashud: Dorong Pemerintah Maksimalkan Skema Penempatan Perseorangan Tempatkan PRT ke Arab Saudi, Kementerian P2MI Jatuhkan Sanksi PT Setia Mulia Kridatama Tim Nusantara Raih Runner Up di Turnamen Bola Voli Super Dome Jeddah Arab Saudi Kementerian P2MI Cabut Izin Tiga Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bekasi

Tokoh

Sammi, Pekerja Migran Tangguh dari Cilacap, Sekolahkan Anaknya Hingga ke Pendidikan Tinggi

badge-check


					Sammi, Pekerja Migran Tangguh dari Cilacap, Sekolahkan Anaknya Hingga ke Pendidikan Tinggi Perbesar

Singapura – Di balik wajah teduh seorang perempuan desa, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh keringat, air mata, dan doa. Sammi (47), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Karang Benda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, adalah sosok nyata bagaimana keteguhan hati seorang ibu mampu mengubah nasib keluarga.

Lahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya merupakan petani penyadap gula kelapa. Sammi tumbuh dalam keterbatasan. Sejak lulus Sekolah Dasar, ia harus menelan kenyataan pahit: tidak bisa melanjutkan pendidikan karena harus membantu orang tua dan adik-adiknya.

“Saya dari keluarga kurang berada, jadi harus mandiri. Terpaksa tidak melanjutkan sekolah lagi, tapi alhamdulillah saya bisa bantu ekonomi orang tua dan menyekolahkan adik sampai Sekolah Menengah Aatas,” kenangnya dengan suara bergetar.

Sejak usia belia, Sammi merantau ke Bandung. Tujuh tahun lamanya ia bekerja, belajar hidup mandiri, dan menanggung rindu kampung halaman. Tahun 1999, ia mengambil langkah besar: berangkat ke Singapura. Di Kota Singa itu, ia bekerja tanpa kenal lelah, sebagai Pekerja Rumah Tangga. Dari hasil kerjanya, ia menabung sedikit demi sedikit untuk membangun rumah dan membeli tanah sawah.

Tahun 2004, Sammi menikah dan dikaruniai dua anak laki-laki. Namun perjuangan tidak berhenti di sana. Pada 2012, ia kembali lagi ke Singapura dengan tekad yang lebih besar: memastikan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

“Bagi saya, di zaman milenial ini pendidikan itu sangat penting. Itu modal masa depan anak-anak agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak,” ujarnya penuh keyakinan.

Tidak hanya bekerja, Sammi juga aktif dalam komunitas Indonesia Family Network (IFN) di Singapura. Melalui organisasi ini, ia berupaya meningkatkan pengetahuan tentang hak-hak pekerja migran dan memperkuat solidaritas di perantauan. Dedikasinya bahkan mengantarkan Sammi menjabat sebagai ketua IFN selama empat tahun.

“Saya ingin teman-teman pekerja migran tahu bahwa kita punya hak, kita bisa saling mendukung, dan kita tidak sendirian di negeri orang,” tuturnya penuh semangat.

Baru-baru ini, kebanggaan terbesar Sammi adalah melihat anak pertamanya, Andi Rafiyan, sudah akan menyelesaikan kuliah di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya Jawa Barat. Meskipun dirinya hanya lulusan Sekolah Dasar, Sammi mampu membuktikan bahwa kerja keras seorang ibu bisa mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi.

“Saya bangga banget melihat video dokumentasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman-temannya. Saya tidak membayangkan anak saya bisa kuliah. Saya hanya lulusan SD, tapi anak saya harus jadi sarjana. Itu kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Baginya, keberhasilan anak bukan hanya buah dari kerja keras, tetapi juga doa yang tak pernah putus.

“Saya tidak menyesal, justru merasa bangga memberi jalan bagi anak-anak saya. Alhamdulillah, semua pengorbanan terbayar ketika melihat anak-anak bisa berdiri tegak dengan pendidikan mereka,” tambahnya.

Selain pendidikan, Sammi juga menekankan pentingnya menabung dan berinvestasi. Dari hasil kerja kerasnya, ia investasi di sektor pertanian, peternakan dan properti. Baginya, tabungan bukan sekadar harta, melainkan jaminan masa depan dan pegangan saat kebutuhan mendesak datang.

“Setidaknya cukup untuk kebutuhan urgent, insya Allah,” tuturnya.

Sammi juga menitipkan pesan untuk para Pekerja Migran Indonesia di manapun berada: penting untuk mengutamakan menabung. Jangan semua hasil kerja diberikan kepada keluarga, karena kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan di kemudian hari dan tidak selamanya bisa bekerja di luar negeri. Menabung adalah bekal untuk masa depan, sekaligus perlindungan saat menghadapi kebutuhan mendesak.

Kisah Sammi Gunawan adalah cermin ketangguhan Pekerja Migran Indonesia. Dari seorang anak desa yang hanya lulusan sekolah dasar, ia menjelma menjadi ibu yang berhasil mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tinggi. Perjuangannya adalah bukti bahwa cinta, pengorbanan, solidaritas, dan kerja keras mampu menembus segala keterbatasan.

Baca Lainnya

Desa Bringinan Jambon Ponorogo Raih Penghargaan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia

24 Januari 2026 - 19:23 WIB

Indonesia Anti-Scam Centre Kembalikan Rp161 Miliar Dana Korban Penipuan Digital

23 Januari 2026 - 23:13 WIB

Ketua Persatuan Buruh Migran Banten Maftuhi Salim Usulkan Pembentukan Direktorat PPA-PPO di Banten

22 Januari 2026 - 10:44 WIB

Kejatuhan Sang Raja Tipu Kamboja: Kebangkitan dan Runtuhnya Kejayaan Chen Zhi

21 Januari 2026 - 16:16 WIB

Tengku Firmansyah: Dari Sorotan Kamera ke Percikan Api Las di Kanada

17 Januari 2026 - 23:28 WIB

Trending di Berita