Menu

Mode Gelap
Polisi Korsel, Tetapkan Pelaut Migran Indonesia yang Meninggal Sebagai Korban Trafficking Istilah “Perseorangan” Dalam UU PPMI Dinilai Membingungkan, Harus Direvisi Layanan Visa PMI ke Turki Capai RP6,5 Juta, Garda Prabowo Ancam Demo VFS Global PM Thailand Janji ke Prabowo Percepat Pemulangan 500 WNI Korban Online Scam Garda Prabowo Ancam Demo Kemen P2MI: Buka Layanan PMI ke Arab Saudi, Tutup Penempatan Ilegal Ketum Aspataki, Saiful Mashud: Penempatan PRT ke Arab Saudi Itu Boleh, Tidak Melanggar Hukum

Berita

Kerja di Jepang Gajinya Rp40 Juta? Begini Nih Penjelasan Teh Lina Rokayah

badge-check


					Kerja di Jepang Gajinya Rp40 Juta? Begini Nih Penjelasan Teh Lina Rokayah Perbesar

Apakah benar, kalau kerja di Jepang itu gajinya mencapai Rp40 juta? Lina Rokayah yang sudah 25 tahun tinggal di Jepang, sering mendapatkan pertanyaan seperti itu dari netizen. Hal itu disampaikannya di salah satu unggahan media sosial baru-baru ini.

“Nah itu ya, ada yang nanya seperti itu ke teh Lina, gitu ya?” ujarnya.

Menurut perempuan dengan nama lengkap Lina Rokayah ini, menjelaskan mungkin benar ada orang Indonesia yang gajinya Rp30 sampai Rp40 juta.

“Itu memang ada, tapi dengan catatan, dengan garis yang tebal, itu biasanya mereka yang punya lemburan yang banyak, misalnya sip malam, mungkin bisa mencapai itu, tapi kerjanya harus digeder (digeber), jadi kerjanya harus banyak banget, jika mau mencapai Rp30 sampai Rp40 juta per bulan,” jelasnya.

Diteruskan, tetapi jika yang kerjanya normal-normal saja, maka gajinya berkisar Rp15 sampai Rp20 juta. Bahkan terkadang lebih rendah dari itu. Misalnya pada saat musim dingin, pekerjaan sepi maka penghasilannya berkisar Rp10 sampai Rp12 juta perbulan.

“Sedangkan rata-rata pendapatan, menurutnya berkisar distandar Rp15 sampai Rp20 juta,” tambahnya seraya menegaskan jika tidak semua perusahaan di Jepang menyediakan lemburan yang banyak.

Lina Rokayah | Dokumen pribadi

Lina sendiri bekerja di sektor pertanian. Pertanian di Jepang menurutnya sangat maju, tidak banyak drama dan lurus-lurus saja. Pengadaan pupuk, logistik dan pemasaran, semuanya hampir 80 persen sudah berjalan baik dan mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Hal itu ditunjang oleh “Pendidikan Makanan” yang sangat bagus. Mengapa orang Jepang sangat mencintai produk sayuran atau buah buahan hasil petaninya sendiri? Karena dari TK, SD, SMP diajarkan “Shokuiku” atau “Pendidikan Makanan”.

Pendidikan Makanan ini mengajarkan masyarakat terutama anak anak akan pentingnya pola makan yang sehat dengan gizi seimbang. Selain itu diajarkan untuk menghormati dan menghargai para petani atau nelayan yang memproduksinya.

“Tidak heran jika para petani atau para nelayan diundang ke sekolah untuk memperkenalkan atau memberikan penjelasan tentang sayuran atau ikan atau buah buahan yang mereka hasilkan,” tambahnya.

Salah satu implementasi reelnya adalah makan siang di sekolah-sekolah dengan mengutamakan bahan-bahan sayuran atau buah-buahan atau lauk-pauk yang dihasilkan dari petani atau nelayan lokal . Dalam hal ini, teh Lina mengaku jika keluarganya termasuk salah satu pemasok sayur-mayur untuk makan siang di sekolah-sekolah di sekitar tempat tinggalnya.

“Meski begitu ada saja masalahnya, yaitu kekurangan petani. Bukan tidak ada, tapi generasi penerusnya berkurang  karena kurangnya populasi orang Jepang,” pungkasnya.

Baca Lainnya

Polisi Korsel, Tetapkan Pelaut Migran Indonesia yang Meninggal Sebagai Korban Trafficking

6 Agustus 2026 - 18:53 WIB

Istilah “Perseorangan” Dalam UU PPMI Dinilai Membingungkan, Harus Direvisi

6 Agustus 2026 - 15:39 WIB

Layanan Visa PMI ke Turki Capai RP6,5 Juta, Garda Prabowo Ancam Demo VFS Global

5 Agustus 2026 - 16:01 WIB

PM Thailand Janji ke Prabowo Percepat Pemulangan 500 WNI Korban Online Scam

4 Agustus 2026 - 14:16 WIB

Garda Prabowo Ancam Demo Kemen P2MI: Buka Layanan PMI ke Arab Saudi, Tutup Penempatan Ilegal

4 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Trending di Berita