Jakarta – Setelah menempuh penerbangan dari Taiwan selama kurang lebih lima setengah jam, Ifat Kurniasih dan pewakilan Allena Humanity Project, akhirnya tiba di tanah air pada Sabtu (11/4) siang. Pesawat Eva Air membawanya bertolak dari Bandara Taoyuan, Taiwan, sekitar pukul 09.00 waktu setempat dan mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 13.20 WIB.
Namun, proses administrasi dan pemeriksaan di area bandara memakan waktu cukup lama, hingga ia baru bisa meninggalkan terminal kedatangan pada pukul 17.40 WIB.
Setibanya di luar bandara, petugas dari BP3MI Bandara Soekarno-Hatta bersama perwakilan Disnaker Subang langsung merujuk Ifat ke Rumah Sakit Polri. Rumah Salah satu Rumah Sakit yang bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI) untuk perawatan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Kolaborasi Strategis dan Dukungan Kemanusiaan
Proses repatriasi medis ini berhasil terlaksana atas kolaborasi intensif antara Yayasan Allena Humanity Project (AHP) yang berbasis di Taiwan dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei serta Disnaker Kabupaten Subang.
Pihak Yayasan AHP menyatakan bahwa pemulangan ini juga didukung oleh bantuan finansial dari para donatur melalui rekening resmi Yayasan AHP yaitu: BRI No: 2167 0100 0781 561.
Selain bantuan sosial, pihak keluarga turut berupaya keras secara mandiri dengan menjual aset tanah milik Ifat di kampung halaman untuk menutupi kekurangan biaya yang dibutuhkan.
Standar Pelayanan Medis di RS Polri Kramat Jati
Untuk menjamin penanganan yang komprehensif, Ifat Kurniasih kini menjalani perawatan di RS Polri yang berlokasi di Jl. Raya Jakarta-Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur. Sebagai institusi kesehatan dengan klasifikasi Rumah Sakit Tipe A, RS Polri menyediakan fasilitas medis mutakhir, salah satunya Layanan Radioterapi terbaru, yang secara khusus diprioritaskan untuk penanganan pasien dengan indikasi kanker.
Latar Belakang dan Kondisi Finansial
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, Ifat sebelumnya sempat memaksakan diri untuk tetap bekerja di tengah kondisi sakit yang luar biasa demi memenuhi tanggung jawab ekonomi keluarga. Hal ini menyebabkan dirinya terbelit kendala finansial medis di luar negeri.
Diketahui, akibat biaya perawatan kesehatan yang sangat tinggi di Taiwan, Ifat memiliki beban utang kepada pemberi kerja sebesar $160.000 NTD atau setara dengan kurang lebih Rp 80 juta.








