Jeddah – Kisah perjuangan seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Dusun Banteng Ompomg Desa Cikarang Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang, cukup menyita perhatian publik di salah satu group media sosial.
Pasalnya, di usianya yang sudah lanjut, kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Sering sakit-sakitan. Namun tetap bekerja, semata-mata demi menyambung hidup keluarga yang ada di kampung halaman.
Sejak tahun 1990, Mawar (nama samaran) mengaku telah bekerja di luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia
(PMI). Menurutnya, sudah lebih dari separuh usianya dihabiskan untuk kerja keras banting tulang, kaki di kepala, kepala di kaki, demi memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung halaman.
Bertahan Kerja Meski Kondisi Tubuh Menurun
Saat ini, Mawar masih sedang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga di Jeddah, Arab Saudi. Meski tubuhnya sering kali terasa tidak fit dan mulai banyak mengeluhkan penyakit, ia belum berani pensiun atau berhenti bekerja.
“Utang sama majikan masih banyak, jadi harus tetap bekerja sampai utang lunas,” ujarnya pada Jumat, 29/5/2026.
Mawar menjelakan, utang itu terpaksa dilakukan untuk menutupi berbagai kebutuhan mendesak keluarganya di Indonesia. Beruntung majikannya tidak pelit, sehingga utang dalam jumlah besar pun tetap diberikan.
Riwayat Panjang Merantau Sejak Tahun 1990
Perjalanan panjang kisahnya sebagai Pekerja Migran Indonesia di luar negeri telah dimulai sejak tahun 1990. Selama kurun waktu 36 tahun lebih, ia telah berpindah dari satu negara ke negara lain demi mencari nafkah yang lebih baik.
Berdasarkan pengakuannya, riwayat kerjanya memang tercatat cukup panjang dan beragam. Dia habiskan di tiga negara: Qatar, Taiwan dan Arab Saudi.
“2 tahun bekerja di Riyadh, 2 tahun di negara Qatar, 20 tahun di Jeddah, 2 tahun di wilayah Jubail, 2 tahun di Alkhobar dan sempat pula mencoba peruntungan bekerja di Taiwan selama 5 bulan,” jelasnya
Mengobati Stroke Kakaknya dan Melunasi Utang Anaknya
Dengan jujur, Mawar mengaku jika selama puluhan tahun itu, setiap rupiah yang ia dapatkan dari hasil keringatnya langsung ia salurkan kepada keluarga.
Beberapa tahun belakangan ini, penghasilannya habis digunakan untuk membiayai pengobatan kakak kandungnya yang menderita penyakit stroke, serta menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Beban ekonomi semakin terasa berat ketika bisnis usaha travel milik anak saya mengalami kebangkrutan, sehingga mereka pun kini bergantung sepenuhnya pada kiriman uang dari saya,” ungkapnya
Kini, perempuan yang sudah berusia lanjut ini dihadapkan pada sebuah dilema besar yang menghantuinya setiap hari.
Di satu sisi, ia merasa tidak tega dan berat hati jika berhenti mengirim uang, mengingat kondisi keluarganya yang masih sangat membutuhkan bantuan.
Namun di sisi lain, jika ia terus-menerus bekerja dan mengirimkan seluruh penghasilannya, ia sama sekali tidak memiliki tabungan atau dana cadangan untuk masa depannya, terlebih lagi kondisinya yang mulai rentan sakit dan membutuhkan biaya pengobatan sendiri.
“Kalau tidak mengirim uang, saya tidak tega melihat keadaan mereka yang susah. Tapi kalau dikirimkan terus-menerus, saya tidak punya apa-apa untuk diri sendiri, apalagi sekarang badan sering sakit-sakitan. Dilema ini terus ada di batin saya dan sampai sekarang belum ada jawabannya,” ungkap Mawar dengan nada penuh keprihatinan.
Kisah Mawar adalah gambaran nyata dari ribuan PMI yang rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, transferan, dengan mengabaikan kesehatan, dan kenyamanan diri sendiri demi menyambung hidup keluarga di tanah air.
Di balik kiriman uang yang diterima keluarga, tersimpan cerita panjang perjuangan sejak puluhan tahun lalu, keterbatasan, dan pengorbanan yang tak ternilai harganya.









