Menu

Mode Gelap
IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI Ketum Aspataki Saiful Mashud: Dorong Pemerintah Maksimalkan Skema Penempatan Perseorangan Tempatkan PRT ke Arab Saudi, Kementerian P2MI Jatuhkan Sanksi PT Setia Mulia Kridatama Tim Nusantara Raih Runner Up di Turnamen Bola Voli Super Dome Jeddah Arab Saudi Kementerian P2MI Cabut Izin Tiga Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bekasi

Berita

Sugianto, Awak Kapal Perikanan Migran Indonesia Terima Penghargaan Presiden Korea Selatan

badge-check


					Sumber | Sugianto Perbesar

Sumber | Sugianto

Seoul – Nama Sugianto (31), Pekerja Migran Indonesia asal Indramayu, Jawa Barat, mendadak menjadi sorotan publik di Korea Selatan.

Hidup sederhana sebagai Awak Kapal Perikanan Migran, ia tak pernah dikenal luas, hingga aksi heroiknya menyelamatkan tujuh warga lanjut usia saat kebakaran hutan di Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, pada Maret 2025 lalu, mengantarkannya ke panggung kehormatan negara. Sebagaimana dilansir dari indramayupost.com pada 03 Januari 2026.

Dalam sebuah acara kenegaraan, Presiden Korea Selatan Lee Jae-Myung menganugerahkan medali dan penghargaan kepada 11 individu yang dianggap berjasa di bidang olahraga, budaya, pelayanan publik, dan kemanusiaan.

Sugianto termasuk di antara penerima penghargaan tersebut, berkat keberaniannya mengevakuasi para lansia dari rumah yang terancam kobaran api. Tanpa memikirkan keselamatan diri, ia membangunkan, menggendong, dan menuntun mereka keluar hingga seluruh korban selamat.

Atas aksi kemanusiaan itu, Sugianto menerima penghargaan langsung dari Presiden. Pemerintah Korea Selatan juga tengah mempertimbangkan pemberian visa jangka panjang (F-2) sebagai bentuk apresiasi lanjutan.

Tokoh Lain yang Dianugerahi

Dalam acara yang sama, sejumlah figur ternama Korea Selatan turut menerima penghargaan antara lain:

  1. Legenda esports Lee Sang-hyeok atau “Faker”, juara dunia League of Legends, dianugerahi Medali Cheongnyong, penghargaan olahraga tertinggi di Korea Selatan. Medali tersebut sebelumnya juga pernah diberikan kepada pesepakbola Son Heung-min, atlet seluncur indah Kim Yuna, dan pegolf Pak Se-ri
  2. Sutradara Shin Woo-seok dari Dolphiners Films menerima Medali Mongnyeon atas kontribusinya dalam produksi video promosi KTT APEC 2025.
  3. Dr. Lee Jong-min, Direktur Pusat Medis Universitas Wanita Ewha, dianugerahi medali kehormatan atas dedikasinya memberikan layanan medis gratis bagi perempuan migran selama lebih dari empat dekade.
  4. Kim Ui-jung, pejabat Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya, atas perannya dalam memajukan pembicaraan dagang Korea–Amerika Serikat melalui inisiatif MASGA.
  5. Almarhum Uskup Emeritus René Dupont dari Keuskupan Katolik Roma Andong menerima Medali Moran, peringkat tertinggi kedua Orde Jasa Sipil.

Kepahlawanan dari Indramayu

Di tengah deretan tokoh besar tersebut, kisah Sugianto tampil berbeda. Tanpa jabatan dan tanpa sorotan, ia bertindak murni atas dasar kemanusiaan. Penghargaan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, sekaligus menegaskan bahwa kepahlawanan sejati dapat lahir dari siapa saja, di mana saja.

Kepada Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding saat masih menjabat, Sugianto menceritakan bahwa sekitar jam sembilan malam ia melihat kebakaran hutan yang tak jauh dari sebuah perkampungan. Asap itu sudah berganti warna dari putih ke hitam, penanda kobaran api sudah mendekat perumahan. Kemudian dia juga melihat ada SMS Peringatan.

Kemudian sekitar jam 10 malam, dia tergerak untuk memberitahu warga. Dia mengetuk-ngetuk pintu-pintu rumah sambil berteriak mengajak penghuninya untuk keluar karena ada kebakaran. Karena jaraknya yang berjauhan, hingga 10.30 malam, dia baru selesai memberitahu warga. Tidak selesai disitu, dia kemudian teriak-teriak dan mengevakuasi warga, terutama yang sudah lansia.

“Terus aku teriakin, nenek cepat keluar ada kebakaran, abis udah nggak mau debat. Ayo kita ngungsi kebawah!” teriaknya sembari memapah nenek.

Pada saat menyelamatkan para korban itu, ada dua orang diantaranya dilakukan dengan penuh susah payah karena medannya yang berbukit-bukit dan jaraknya sekitar 150 meteran.

“Jadi aku tarik, aku gendong lagi, sementara kobaran api sudah dibelakang rumah nenek-nenek itu,” pungkasnya dan menjelaskan merasa lega karena sudah berhasil menyelamatkan 60 warga.

Dikutip dari detik,com, kebakaran hutan itu awalnya terjadi di Desa Uiseong pada 22 Maret 2025. Api terus menyebar melalui Andong dan Cheongsong hingga perbatasan barat Desa Yeongdeok sekitar pukul 6 sore tanggal 25 Maret 2025. Dalam 2 jam, api menyebar ke wilayah yang berjarak 25 Km di sisi timur.

Situasi saat itu sangat kacau dan listrik serta komunikasi lumpuh akibat kebakaran hutan. Hanya sedikit penduduk yang tahu pukul berapa kebakaran hutan itu tiba. Sekitar pukul 19.40 waktu setempat, asap tebal sudah terlihat di luar. Pada pukul 20.00, banyak warga yang yakin api telah menjalar ke desa.

Sekitar 60 warga saat itu sedang berada di rumah atau bahkan sudah tertidur ketika kebakaran terjadi. Kepala desa, Kim, sempat keluar karena mencium bau aneh dan pergi ke sisi kanan dermaga.

Kepala komunitas Yoo kemudian pergi ke sisi kiri. Sementara, Sugianto pergi ke tengah untuk membangunkan penduduk desa dan mengevakuasi mereka.

Baca Lainnya

IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil

6 Februari 2026 - 21:37 WIB

Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI

5 Februari 2026 - 10:03 WIB

Ketum Aspataki Saiful Mashud: Dorong Pemerintah Maksimalkan Skema Penempatan Perseorangan

4 Februari 2026 - 17:37 WIB

Tim Nusantara Raih Runner Up di Turnamen Bola Voli Super Dome Jeddah Arab Saudi

3 Februari 2026 - 14:29 WIB

Kementerian P2MI Cabut Izin Tiga Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bekasi

2 Februari 2026 - 17:54 WIB

Trending di Berita