Sejarah mencatat 7 Januari 2026 sebagai hari berakhirnya pelarian Chen Zhi, taipan misterius pendiri Prince Holding Group. Pria yang pernah menjadi orang paling berpengaruh di Kamboja ini diekstradisi ke China setelah terungkap membangun kerajaan bisnis di atas penderitaan jutaan korban penipuan siber global.
Awal Mula: Membeli Identitas (2011–2014). Chen Zhi lahir di Fujian, China, pada tahun 1987. Ia tiba di Kamboja sekitar tahun 2011 sebagai pemuda ambisius yang melihat peluang di negara yang tengah berkembang. Pada 2014, ia resmi menjadi warga negara Kamboja melalui program investasi, sebuah langkah strategis yang memungkinkannya menguasai ribuan hektare tanah dan membangun kedekatan dengan elit politik negara tersebut.
Membangun “Kerajaan” Prince Group (2015–2020). Dalam waktu kurang dari satu dekade, Chen Zhi mendirikan Prince Holding Group. Perusahaan ini dengan cepat menggurita ke sektor perbankan (Prince Bank), real estat mewah, hingga maskapai penerbangan. Di depan publik, ia adalah filantropis yang dermawan; ia menyumbangkan jutaan dolar untuk vaksin COVID-19 dan menyandang gelar kehormatan “Neak Oknha” dari Raja Kamboja. Namanya bahkan tercatat sebagai penasihat pribadi untuk Hun Sen dan Hun Manet.
Sisi Gelap: Pabrik Penipuan Global. Namun, di balik gedung-gedung pencakar langit yang ia bangun, Chen Zhi diduga mengoperasikan “pusat penipuan” (scam compounds) berskala masif. Menggunakan tenaga kerja paksa hasil perdagangan manusia, jaringan ini menipu korban di seluruh dunia melalui modus investasi kripto palsu atau pig butchering. Pada puncak kejayaannya, jaringan ini dilaporkan meraup keuntungan ilegal hingga US$30 juta per hari (sekitar Rp470 miliar per hari).
Penyitaan Terbesar dalam Sejarah (Oktober 2025). Kehancuran Chen Zhi dimulai ketika Departemen Kehakikan Amerika Serikat (DOJ) melakukan tindakan keras. Pada Oktober 2025, otoritas AS berhasil menyita 127.271 Bitcoin senilai sekitar US$15 miliar (sekitar Rp235,5 triliun) yang terhubung langsung dengan dompet kripto milik Chen. Ini menjadi penyitaan aset kripto terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah penegakan hukum global.
Kejatuhan dan Ekstradisi (Desember 2025 – Januari 2026). Tekanan internasional, terutama dari AS dan Inggris, memaksa Kamboja untuk bertindak. Pada Desember 2025, kewarganegaraan Kamboja Chen Zhi dicabut secara resmi melalui dekrit kerajaan.
Operasi penangkapan besar-besaran dilakukan di Phnom Penh pada 6 Januari 2026. Chen Zhi diringkus tanpa perlawanan. Hanya berselang 24 jam, pada 7 Januari 2026, ia diterbangkan ke China dengan pengawalan ketat untuk menghadapi proses hukum. Bersamaan dengan itu, Bank Nasional Kamboja langsung memerintahkan likuidasi Prince Bank, menandai runtuhnya seluruh sisa-sisa kerajaan bisnisnya.
Kehancuran. Kini, aset-aset mewahnya—mulai dari jet pribadi, superyacht, hingga 34 koleksi supercar di Taiwan—sedang dalam proses lelang untuk menutupi kerugian para korban. Chen Zhi, yang pernah mengeklaim kekayaan hingga US$90 miliar (sekitar Rp1.408 triliun), kini menghadapi ancaman hukuman penjara hingga 40 tahun di China atas kejahatan penipuan lintas negara dan pencucian uang.








