Menu ✖

Mode Gelap
Uang Puluhan Juta Raib, Pegiat PMI Japri Menteri Mukhtarudin Bantu Korban LPK Kitaro Insan Cendikia SPMI Laporkan PT Keluarga Samudera Indonesia ke Bareskrim Polri Terkait Tunggakan Hak Pelaut Migran Jejak Hitam Tentara Bayaran di Rusia: SBPI Sediakan Layanan Loker Resmi ke Rusia Blak-blakan, Menteri Mukhtarudin Bagikan Nomor HP Pribadi: Laporkan P3MI Nakal Langsung ke Saya! Kepada Menteri P2MI Mukhtarudin, Yosa Ketua IMWU Macau Tuntut Pemerintah Akui 8789 PMI di Macau Memanas: Dialog Pasti Ada Solusi di Hong Kong, Diwarnai Ketegangan Antara Ketua IMWU dan Menteri Hukum

Berita

Kawal Aksesi OECD. Jangan Cuma Karpet Merah Investasi, Aksesi OECD Harus Lindungi Hak Buruh

badge-check


					Diskusi Serikat Buruh Kawal Aksesi Indonesia ke OECD Perbesar

Diskusi Serikat Buruh Kawal Aksesi Indonesia ke OECD

Jakarta — Langkah Indonesia menuju status negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memasuki babak baru.

Tidak sekadar urusan diplomasi ekonomi dan harmonisasi regulasi, proses aksesi ini kini menjadi panggung krusial bagi perjuangan hak-hak buruh nasional.

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menjadi tuan rumah terkait konsolidasi gerakan serikat buruh melalui diskusi bertajuk “Mengawal Proses Aksesi Indonesia ke OECD dan di Trade Union Advisory Committee (TUAC) atau Komite Penasihat Serikat Buruh (KPSB) OECD: Merumuskan Masukan Serikat Buruh” pada Jumat (31/7/2026).

Menurut koordinatornya, Surya Tjandra, forum ini digelar guna memastikan suara pekerja tidak terpinggirkan di tengah negosiasi standar internasional.

“Sejak mengajukan permohonan aksesi resmi pada Februari 2023, Indonesia diwajibkan menyesuaikan ratusan kebijakan domestik dengan standar OECD. Sektor ketenagakerjaan, hak berserikat, isu pekerja gig economy (platform), hingga perilaku bisnis yang bertanggung jawab atau Responsible Business Conduct (RBC) menjadi sorotan utama yang memengaruhi jutaan buruh di tanah air,” ujarnya

Poin Kunci: Tuntutan Serikat Buruh dan Isu National Contact Point (NCP).

Pertama. Desakan Pembentukan National Contact Point (NCP). Indonesia saat ini belum memiliki NCP—mekanisme non-yudisial wajib bagi anggota OECD untuk menerima dan memproses pengaduan pelanggaran standar bisnis oleh perusahaan multinasional. Pembentukan NCP dinilai sangat mendesak.

Kedua. Penguatan Peran di KPSB: Meskipun gerakan buruh Indonesia telah tercatat sebagai anggota asosiasi (associate member) di KPSB OECD, konsolidasi dan keterlibatan aktif di tingkat global dinilai masih perlu diperkuat secara signifikan.

Ketiga. Perlindungan Pekerja Rentan: Instrumen OECD dipandang berpotensi menjadi leverage baru untuk memperkuat perlindungan pekerja di berbagai sektor, termasuk pekerja migran dan awak kapal migran.

Mendorong Pengawasan Berbasis Rekomendasi Global

Langkah advokasi ini juga merujuk pada dokumen rekomendasi KPSB yang terbit pada 23 Juni 2026, The Way Forward for the OECD Guidelines for MNEs on RBC.

Dalam dokumen tersebut, KPSB menyuarakan agar setiap negara anggota memperkuat mekanisme NCP, memberi insentif serta sanksi tegas bagi korporasi yang mengabaikan rekomendasi, hingga mewajibkan kepatuhan standar RBC sebagai syarat mendapatkan dukungan finansial negara.

KPSB juga menyoroti pentingnya perlindungan pelapor pelanggaran (whistleblower), penetapan ambang batas pengaduan kasus yang inklusif, serta penerapan kebijakan anti-retaliasi demi melindungi buruh yang melapor.

Target dan Hasil Diskusi

Melalui ruang konsolidasi ini, koalisi serikat buruh menargetkan tiga keluaran strategis:

  1. Peningkatan Kapasitas & Pemahaman: Membangun persepsi bersama antar-serikat buruh terkait dampak teknis aksesi OECD terhadap regulasi ketenagakerjaan nasional.
  2. Draf Pernyataan Sikap Bersama: Menyusun masukan resmi kepada Pemerintah Indonesia dan jejaring KPSB OECD, khususnya mengenai desain pembentukan NCP Indonesia yang berpihak pada pekerja.
  3. Mekanisme Koordinasi Berkelanjutan: Menyepakati jalur komunikasi dan kerja sama jangka panjang antar-serikat buruh untuk terus mengawal isu ketenagakerjaan di forum OECD dan Employment, Labour and Social Affairs Committee (ELSAC).

Aksesi OECD memberikan peluang emas untuk mendobrak kebuntuan advokasi ketenagakerjaan konvensional.

Melalui forum ini, serikat buruh Indonesia menegaskan kesiapan mereka untuk mengawal proses multilateral tersebut agar tidak sekadar menjadi karpet merah bagi investasi, melainkan juga jaminan atas hak dan kesejahteraan pekerja.

Baca Lainnya

Uang Puluhan Juta Raib, Pegiat PMI Japri Menteri Mukhtarudin Bantu Korban LPK Kitaro Insan Cendikia

6 November 2026 - 20:18 WIB

SPMI Laporkan PT Keluarga Samudera Indonesia ke Bareskrim Polri Terkait Tunggakan Hak Pelaut Migran

4 November 2026 - 13:20 WIB

Jejak Hitam Tentara Bayaran di Rusia: SBPI Sediakan Layanan Loker Resmi ke Rusia

4 November 2026 - 11:14 WIB

Blak-blakan, Menteri Mukhtarudin Bagikan Nomor HP Pribadi: Laporkan P3MI Nakal Langsung ke Saya!

3 November 2026 - 17:15 WIB

Kepada Menteri P2MI Mukhtarudin, Yosa Ketua IMWU Macau Tuntut Pemerintah Akui 8789 PMI di Macau

3 November 2026 - 16:17 WIB

Yosa Wariyanti Ketua UMWU Macau Sampaikan Tuntutan Kepada Menteri P2MI Mukhtarudin
Trending di Hong Kong