Malaysia — Dilansir dari laman resmi iom.int, pekerja migran memainkan peran krusial dalam perekonomian dan masyarakat Malaysia.
Guna memajukan praktik perekrutan yang adil dan etis serta memperkuat perlindungan di seluruh siklus migrasi, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) secara aktif bekerja sama dengan Pemerintah Malaysia dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
Fokus Dukungan dan Peningkatan Kapasitas
“Secara spesifik, keterlibatan IOM di Malaysia berfokus pada dukungan terhadap kebijakan, sistem, dan praktik yang selaras dengan standar ketenagakerjaan internasional serta prioritas nasional,” ujar IOM pada 13 Mei 2026
Menurut IOM, upaya tersebut mencakup kerja sama teknis, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses layanan bagi para pekerja migran, khususnya mereka yang berada dalam situasi rentan.
Klarifikasi Hubungan IOM dengan Bestinet dan FWCMS
Menanggapi berbagai pernyataan publik dan pemberitaan media baru-baru ini mengenai Bestinet Sdn. Bhd. serta Sistem Manajemen Terpusat Pekerja Asing atau Foreign Workers Centralized Management System (FWCMS), IOM menegaskan posisinya.
Organisasi ini mengklarifikasi bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam perancangan, pengembangan, pengoperasian, peninjauan, maupun penilaian FWCMS, serta tidak memberikan dukungan, validasi, ataupun pengakuan apa pun terhadap sistem tersebut.
Penggunaan Panduan Perekrutan Bukan Bentuk Kemitraan
Menurut IOM, kerangka kerja dan panduan IOM mengenai perekrutan etis bersifat terbuka untuk umum dan dapat dirujuk oleh pemerintah maupun pihak lain, rujukan tersebut sama sekali tidak menyiratkan adanya bentuk dukungan, persetujuan, atau kemitraan resmi dari IOM, kecuali jika dinyatakan secara eksplisit.
Sinergi Standar Internasional dan Komitmen Malaysia
Dalam misinya, IOM berdiri sejalan dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk mempromosikan standar perekrutan yang adil, efektif, dan berstandar internasional.
Langkah penting Malaysia meratifikasi Protokol 2014 Konvensi ILO tentang Kerja Paksa tahun 1930 pada 2022 lalu mencerminkan komitmen nyata dalam mencegah kerja paksa dan melindungi hak-hak pekerja.
“Oleh karena itu, IOM menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan keterlibatan yang konstruktif bersama Pemerintah Malaysia, berkoordinasi dengan ILO dan mitra lainnya, demi mendukung implementasi komitmen tersebut secara nyata,” jelas IOM.
Mencegah Eksploitasi dan Jeratan Utang
Ke depan, IOM tetap teguh pada komitmennya untuk mempromosikan perekrutan yang beretika, praktik bisnis yang bertanggung jawab, serta pendekatan komprehensif guna meminimalisir risiko eksploitasi dan jeratan utang akibat perekrutan.
Langkah ini diambil sekaligus untuk memastikan para pekerja migran dapat berkontribusi secara aman dan produktif bagi perekonomian serta masyarakat Malaysia.
Berdasarkan data terbuka, Bestinet adalah sebuah perusahaan teknologi informasi asal Malaysia yang berkantor pusat di Cyberjaya, Selangor. Perusahaan ini didirikan pada 17 November 2008 oleh Aminul Islam Abdul Nor.
Layanan Utama Bestinet
Bestinet menjadi Pengembang dan pengelola Foreign Workers Centralized Management System (FWCMS / Sistem Manajemen Terpusat Pekerja Asing) yang terintegrasi dengan Sistem Imigrasi Malaysia (MyIMMs).
Sistem ini awalnya ditawarkan kepada Pemerintah Malaysia sebagai instrumen pencegahan korupsi dalam tata kelola pekerja migran.
Pengembangan Proyek Lain
Bestinet juga mengembangkan sistem Advanced Universal Recruitment Labor Platform (TURAP) yang diusulkan untuk Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia.
Kontroversi, Permintaan Ekstradisi Pendiri
Aminul Islam Abdul Nor, awalnya merupakan seorang pekerja migran asal Bangladesh yang datang ke Malaysia pada tahun 1988 dan kemudian memperoleh kewarganegaraan Malaysia.
Belakangan Aminul Islam menjadi subjek permintaan ekstradisi resmi dari Pemerintah Bangladesh.
Dugaan Pemerasan dan Korupsi Sistemik (Laporan Bloomberg 2026):
- Laporan investigasi Bloomberg News (23 Januari 2026) menyoroti korupsi dalam koridor perekrutan pekerja migran Bangladesh–Malaysia.
- Bestinet diduga memfasilitasi atau memungkinkan rekan Aminul Islam (Ruhul Amin) untuk memeras para pekerja migran melalui kontrol atas mekanisme perekrutan.
Kritik terhadap Sistem TURAP:
Pengembangan dan usulan penerapan platform TURAP menuai kritik keras dari berbagai pihak akibat kurangnya transparansi dan minimnya pengawasan independen terhadap operasional Bestinet.









