Menu

Mode Gelap
IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI Ketum Aspataki Saiful Mashud: Dorong Pemerintah Maksimalkan Skema Penempatan Perseorangan Tempatkan PRT ke Arab Saudi, Kementerian P2MI Jatuhkan Sanksi PT Setia Mulia Kridatama Tim Nusantara Raih Runner Up di Turnamen Bola Voli Super Dome Jeddah Arab Saudi Kementerian P2MI Cabut Izin Tiga Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bekasi

Berita

Caritas Indonesia Ingatkan Bahaya Perdagangan Orang dan Migrasi Tidak Aman di Wilayah Pasca Bencana

badge-check


					Foto Romo Fredy Rante Taruk Perbesar

Foto Romo Fredy Rante Taruk

Berdasarkan kesaksian para staf, relawan dan jaringan keuskupan yang memberikan pelayanan kemanusiaan di daerah terdampak bencana khususnya di provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ditemukan banyak warga kehilangan tempat tinggal, anggota keluarga, pekerjaan, dan bahkan dokumen-dokumen penting seperti ijazah, kartu identitas, serta sertifikat lainnya.

Di tengah situasi tersebut, cara warga keluar dari situasi kebencanaan menjadi tidak biasa dan sangat rentan terhadap jebakan perdagangan orang dan migrasi tidak aman. Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Caritas Indonesia Romo Fredy Rante Taruk melalui rilisnya pada 6 Januari 2026.

Oleh karena itu, lanjutnya, Komite Divisi Migran, Pengungsi, dan Anti-Perdagangan Manusia Caritas Indonesia mengingatkan kepeada pemerintah untuk sigap memberikan perlindungan hukum bagi warga agar tidak jatuh ke tangan predator yang menawarkan utang, adopsi anak, pekerjaan, bahkan migrasi tidak aman.

“Segenap tempat pengungsian dan rumah korban harus dikawal agar tidak dimasuki predator perdagangan orang.” ujarnya.

Diteruskan, belajar dari pengalaman para anggota komite di wilayah pasca bencana antara lain erupsi Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi rujukan pentingnya bergerak sigap melindungi masyarakat rentan agar tidak menjadi korban perdagangan orang.

“Maka dari itu, Caritas Indonesia menawarkan rekomendasi untuk mencegah potensi praktik perdagangan manusia, sebagai berikut:

Pertama, melakukan sosialisasi terkait bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pasca bencana.

“Caritas Indonesia bersama dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian – Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) di Keuskupan Agung Medan, Sibolga, dan Padang telah melakukan sosialisasi bahaya tersebut, termasuk modusnya,” jelasnya.

Kedua, menyuarakan agar pemerintah melakukan sosialisasi bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pasca bencana.

“Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang di level Pusat dan Provinsi, menjadikan ini sebagai program khusus di wilayah pasca bencana.” usulnya.

Ketiga, Caritas Indonesia membuka hotline pelaporan suspek perdagangan orang dan migrasi tidak aman di wilayah pascabencana, yakni di nomor Whatsapp 0811-9996-728 atau surat elektronik migran@karina.or.id.

Romo Fredy Rante Taruk, menegaskan, bahwa isu mengenai perdagangan orang dan migrasi tidak aman merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Maka dari itu, Caritas Indonesia dengan kapasitas 38 Jaringan Keuskupan yang tersebar di seluruh Indonesia membuka peluang kerjasama kepada seluruh pihak untuk ikut serta dalam memberantas perdagangan orang dan menciptakan iklim migrasi aman.

Romo Chrisantus Paschalis menambahkan bahwa Bencana sudah sering jadi pintu masuk perdagangan orang. Membangun kembali wilayah pascabencana butuh waktu, dan pada waktu itu pula predator perdagangan orang beraksi.

“Wilayah pasca bencana itu sangat menggiurkan para calo dan orang-orang tidak bertanggung jawab menawari warga terdampak untuk keluar dari wilayah bencana tanpa pikir panjang. Itu sebabnya negara harus hadir memberikan perlindungan hukum bagi warga yang kehilangan pekerjaan, orangtua, dan dokumen resmi,” kata Anggota Komite dan Pendamping Komisi Keadilan, Kedamaian dan Pastoral Migran Perantau di Batam.

Anggota lainnya Dinna Prapto Raharja yang juga praktisi dan ahli hubungan internasional, menyoroti modus-modus predator yang perlu diwaspadai di wilayah pasca bencana:

Pertama, korban ditipu oleh orang atau kelompok yang mengaku dari lembaga peduli bencana. Kedua, korban digugah emosi ketidakberdayaannya, misalnya tiada lagi orangtua & tulang punggung keluarga, tiada yang memberi perhatian, dan buruknya perhatian orang dan stigma yang melekat pada korban bencana. Ketiga, korban dijanjikan aneka pelayanan dan kemudahan bahkan janji perlindungan, nikmat penghasilan, sekolah, disediakan dokumen resmi untuk bekerja dan pindah ke tempat lain. Keempat, korban dilumpuhkan daya bertanya dan kritisnya, dikuasai cara berpikirnya, dibuat enggan melakukan cross-check ke otoritas dan kawan, diisolasi dari sekelilingnya, diberikan uang, dan dibombardir dengan desakan untuk bertindak cepat.

“Segenap pemerintah dan unsur masyarakat sipil harus lebih peka melihat gerak-gerik korban bencana, agar mereka jangan sampai dikuasai oleh para predator,” ajaknya.

Suster Laurentina SDP juga mengingatkan bahwa korban pasti sulit menyadari bahwa dirinya sedang dijebak dan dimanipulasi.

“Itu sebabnya media massa perlu menyebarluaskan kepedulian akan bahaya perdagangan orang dan migrasi tidak aman. Itu sebabnya Caritas Indonesia mengirimkan peringatan dini agar apa yang terjadi di NTT tidak berulang di daerah pasca bencana lainnya, kata Anggota Komite dan pendamping di Kupang.

Senada dengan sebelumnya, Romo Reginald Piperno, juga mengajak semua pihak yang berkepentingan untuk secara cepat menangani proses rehabilitasi wilayah-wilayah terdampak bencana alam sehingga tidak membuka peluang bagi para predator tindakan pidana perdagangan orang menawarkan pekerjaan di luar daerah secara non-prosedural.

“Hendaknya semua pihak, teristimewa mereka yang berniat membantu para warga terdampak, harus benar-benar murni mengedepankan kemanusiaan, tidak diboncengi dengan kepentingan-kepentingan tersembunyi yang membuat korban terdampak bencana semakin terpuruk hidupnya.” Tegas Anggota Komite, aktivis lingkungan hidup dan anti Tindakan Pidana Perdagangan Orang dari Keuskupan Agung Ende

Diketahui sebelumnya, sejak bencana alam hidrometeorologi yang terjadi di Sumatera pada akhir bulan November 2025, Caritas Indonesia bersama dengan tiga keuskupan di wilayah terdampak bencana seperti Keuskupan Agung Medan, Sibolga, dan Padang, telah terlibat aktif di lapangan menyediakan layanan tanggap darurat untuk warga terdampak.

Per 3 Januari 2026, Caritas Indonesia bersama tiga keuskupan dan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BNPB telah melakukan pemantauan dampak bencana alam di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,

Dari pantauan tersebut, diperoleh data dan indormasi sebagai berikut:

Pertama, bencana di tiga provinsi diperkirakan berdampak langsung pada lebih dari 3,3 juta jiwa dan memaksa hingga 1 juta orang mengungsi. Kedua, korban meninggal dunia sebanyak 1.157 orang. Ketiga, sebanyak 165 orang hilang belum ditemukan. Keempat, korban luka-luka kurang lebih ada 7.000 orang. Kelima, rumah rusak sebanyak 178.479 unit: rusak berat sebanyak 52.302 unit, rusak sedang  sebanyak 43.933 unit, dan rusak ringan sebanyak 82.243 unit

Selain pemantauan, Caritas Indonesia bersama tiga keuskupan di wilayah terdampak telah melakukan kegiatan pelayanan kemanusiaan, meliputi:

  1. Penggalangan bantuan kemanusiaan, baik dalam bentuk barang maupun dana;
  2. Mengirimkan staff dan relawan Core Response Team (CRT) untuk hadir langsung membantu warga terdampak bencana alam di tiga keuskupan.
  3. Memberikan pelayanan tanggap darurat, meliputi:
    • Distribusi pangan: 8.428 paket untuk 8.428 KK atau 33.712 jiwa;
    • Distribusi hygiene kit: 1.379 paket untuk 1.379 KK atau 6.535 jiwa;
    • Pendistribusian shelter kit: 1.241 paket untuk 1.241 KK atau 4.967 jiwa;
    • Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membuka pos pelayanan kesehatan dan psikososial di wilayah Keuskupan Sibolga. Sebanyak 993 jiwa telah mendapatkan layanan kesehatan dan sebanyak 1.680 jiwa mendapatkan layanan dukungan psikososial.

Baca Lainnya

IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil

6 Februari 2026 - 21:37 WIB

Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI

5 Februari 2026 - 10:03 WIB

Ketum Aspataki Saiful Mashud: Dorong Pemerintah Maksimalkan Skema Penempatan Perseorangan

4 Februari 2026 - 17:37 WIB

Tim Nusantara Raih Runner Up di Turnamen Bola Voli Super Dome Jeddah Arab Saudi

3 Februari 2026 - 14:29 WIB

Kementerian P2MI Cabut Izin Tiga Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia di Bekasi

2 Februari 2026 - 17:54 WIB

Trending di Berita