Tangerang — Persatuan Buruh Migran (PBM) Tangerang mendesak pemerintah segera turun tangan membebaskan Liska Noviani (40), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Tanjung Karang Bandar Lampung yang diduga menjadi korban penempatan ilegal dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Libya.
Pengurus Persatuan Buruh Migran Tangerang, Suyatna, mengungkapkan bahwa penderitaan Liska bermula saat ia diberangkatkan secara ilegal menuju Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) pada Desember 2025 lalu.
Selama tiga bulan bekerja di majikan di Dubai, Liska mengalami pelecehan seksual. Naas, ketika mengadukan kejahatan tersebut ke pihak agensi lokal, ia justru dibohongi.
“Agensi berjanji memindahkan Liska ke Turki. Namun setibanya di bandara transit, Liska baru menyadari bahwa ia justru diterbangkan dan ditempatkan di Libya,” ujar Yatna saat memberikan keterangan (31/08/2026).
Kini, Liska sudah enam bulan terjebak di Libya dan dipaksa bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) sendirian di rumah bertingkat empat. Kondisi fisiknya kian memprihatinkan karena kerap mengeluhkan sakit pinggang hebat akibat menaiki dan menuruni tangga rumah besar tersebut, terlebih ia memiliki riwayat operasi sesar selama tiga kali.
Lebih lanjut Yatna menegaskan bahwa pihak organisasi telah menuntut pertanggungjawaban dari sponsor yang memberangkatkan Liska, yakni Tarmizi dari Serang Banten. Namun hingga saat ini, belum ada iktikad baik maupun perkembangan berarti dari pihak sponsor, sementara Liska terus mendesak kepastian pemulangannya ke tanah air.
Lisna saat ini dalam kondisi fisik dan psikis yang terus memburuk. Liska menyampaikan permohonan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Luar Negeri, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI), Gubernur Bandar Lampung, Walikota hingga beserta jajaran dinas terkait. Ia memohon agar pemerintah pusat dan daerah segera menyelamatkan dan memulangkannya ke Indonesia.
“Tolong saya pak, saya disini sakit, karena kerja berat, naik turun empat lantai, di rumah besar, sendirian kerja PRT, saya tidak kuat, saya minta tolong.” Pintanya.
Teman seperjuangan Liska di Libya, Ayu (38, nama samaran) mengaku bahwa Agensi penyalurnya sangat kejam, banyak yang disiksa, dan belum lama ini sudah ada dua orang yang meninggal dunia. Ia juga berharap agar pemerintah membantu Liska yang sakitnya tambah parah.









