Doha, Qatar – Nasib pilu dialami sebagian perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) kaburan di Qatar. Alih-alih meraih kesejahteraan, mereka justru terperosok dalam lingkaran prostitusi ilegal yang dikendalikan oleh jaringan mafia germo.
Hal ini disampaikan informan yang tidak mau disebut identitasnya. Dia merupakan salah seorang perempuan pekerja migran yang sudah bekerja selama kurang lebih satu tahun sebagai pekerja rumah tangga. Dia hampir menjadi korban jaringan mafia germo di Doha. Jujur dia juga mengaku ditempatkan secara ilegal.
“Para korban, dipaksa melayani pelanggan dengan tarif sangat murah. Setiap hari harus melayani minimal 10 pelanggan. Namun pendapatan mereka dipotong habis oleh germo,” jelasnya pada Selasa, 31 Maret 2026.
Jaringan Terorganisir
Menurutnya, ada jaringan mafia germo di Qatar yang beroperasi secara terorganisir dan rapih untuk merekrut calon Pekerja Seks. Mereka memiliki kaki tangan yang bertugas secara spesifik.
Ada yang bertugas mengompori perempuan pekerja migran untuk kabur dari rumah majikannya. Ada yang bertugas menjemput kaburan. Ada yang bertugas mempromosikan kepada calon pelanggan. Ada juga yang mengatur pelaksanaan prostitusinya, mulai dari pengadaan kamar, jadwal, pembayaran dan pembagian pendapatannya.
Mengompori Untuk Kabur
Dari screnshoot yang diperoleh, nampaknya mereka adalah orang yang terlatih dalam mengompori perempuan pekerja migran untuk kabur dari rumah majikan.
Mereka menarget perempuan pekerja migran yang sedang galau atau yang sedang berseteru dengan majikannya. Lalu menjapri akun medsosnya. Kadang menawarkan pekerjaan yang sama, kadang juga berbeda. Mereka mengiming-imingi dengan gaji yang lebih tinggi.
Selain itu mereka juga menawarkan opsi pekerjaan yang halal dan non halal. Jika mau gaji yang lebih tinggi maka secara tidak langsung menyuruh untuk memilih pekerjaan non halal.
Biaya Penjemputan
Selanjutnya, jika perempuan pekerja migran mau dengan tawarannya, mereka memberlakukan tarif jasa pengaburan sebesar 1000 sampai 1500 Riyal Qatar setara Rp 4,5 juta sampai Rp 6,9 juta. Biaya tersebut untuk biaya penjemputan dan penampungan sementara.
Setelah berhasil dijemput dan tampung, jaringan mafia germo memaksa meraka untuk menjadi pelacur murah.
Jaringan mafia germo ini menjajakan mereka kepada lelaki pekerja migran dari India, Pakistan, Bangladesh, Nepal dan Mesir. Tidak menutup kemungkinan dari warga Qatar sendiri.
Jumlah Pekerja Migran di Qatar
Berdasarkan data terbuka, total Populasi Qatar per Januari 2026, sebanyak 3.374.660 jiwa. Persentase Warga Negara Asing sebanyak 88,4% – 90%. Sisanya Warga Negara Qatar sebanyak 10% – 11,6%.
Jumlah Warga Negara Asing yang menjadi pekerja migran di Qatar bervariasi. India sebanyak 700 ribu, Bangladesh sebanyak 400 ribu, Nepal sebanyak 400 ribu, Mesir 300 ribu dan Pakistan sebanyak 180 ribu.
80 sampai 90% pekerja migran dari India, Bangladesh, Nepal, dan Pakistan berjenis kelamin laki-laki. Mereka bekerja di sektor konstruksi, infrastruktur, dan teknis.
Persoalannya, kebijakan negara tujuan penempatan, tidak memperbolehkan pekerja migran menikah dan membawa keluarganya. Karena penghasilannya tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya beserta keluarga.
Atas dasar tersebut. Bisnis prostitusi terselubung di Qatar menjadi sangat menjanjikan.
Pelacuran Murah
Tahap selanjutnya adalah pengaturan seluruh proses prostitusi. Mulai dari penyediaan tempat tinggal sementara (kamar), penjadwalan dan pengumpulan pelanggan, hingga pengelolaan sistem pembayaran.
Semua langkah ini dirancang demi meraup keuntungan sebesar-besarnya dari praktik ilegal yang mereka jalankan, sementara para pekerja seks hanya mendapatkan sisa-sisa pendapatan yang menyakitkan.
Pembagian Pendapatan Yang Tidak Adil dari Pelacuran
Dalam skema yang diatur ketat oleh germo, setiap pelanggan dikenakan biaya 100 Riyal Qatar. Jika seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) migran berhasil melayani 10 pelanggan dalam sehari, total pendapatan yang terkumpul adalah 1000 Riyal Qatar. Namun, jumlah tersebut tidak sepenuhnya menjadi milik mereka.
Pembagiannya sangat timpang: 500 untuk biaya sewa kamar, 350 menjadi jatah germo, dan sisanya yang hanya 150 untuk PSK migran.
Kondisi semakin memprihatinkan jika target 10 pelanggan tidak tercapai. Jika kurang dari itu, jatah PSK migran bahkan menyusut drastis menjadi hanya 50.
“Kalau pelanggan kurang dari 10 orang, ya cuma dikasih 50 Riyal Qatar sama germo,” keluh salah seorang korban yang identitasnya disamarkan sebagai Migrani.
Migrani menceritakan pengalamannya yang pernah melayani 13 pelanggan dalam sehari namun tetap saja pendapatannya terasa tidak sepadan dengan kerja keras dan risiko yang dihadapi.
Lebih lanjut Migrani menceritakan jika ingin keluar dari jaringan germo tersebut, maka harus membayar biaya yang sangat mahal kepada germo.









