Karawang – Rasa cemas kini menyelimuti hati Ijah Nurjanah (48). Warga Desa Sumurkondang, Kecamatan Klari, Karawang ini mengkhawatirkan keselamatan putranya, Muhammad Hanif Abdul Karim (20), yang terjebak di Kamboja. Hingga kini, janji kepulangan Hanif tak kunjung menjadi nyata.
Dalam sambungan telepon dengan awak media Berita Buruh Migran, Rabu (11/3/2026), Ijah menceritakan perjuangannya. Setiap kali berkomunikasi, Hanif selalu meminta uang untuk membeli tiket pulang. Sebagai ibu, Ijah mengusahakan segala cara, bahkan sering kali harus beradu argumen dengan suaminya yang bekerja sebagai buruh pabrik demi mengirimkan uang tersebut.
“Sudah puluhan juta saya transfer, belum lagi kiriman kecil seratus atau dua ratus ribu yang tak terhitung jumlahnya. Tapi setelah uang dikirim, janji pulang itu menguap. Hanif beralasan uangnya habis untuk makan, lalu minta kiriman lagi,” ujar Ijah lirih.
Dugaan Pemerasan
Ijah menduga uang kirimannya habis diperas oleh senior-senior Hanif di sana. Kecurigaan ini diperkuat dengan kiriman foto dan video yang memperlihatkan kondisi fisik Hanif yang memprihatinkan.
“Wajah Hanif dipenuhi bintik-bintik hitam bekas luka. Saya juga dapat informasi, dulu kalau tidak mencapai target, mereka akan disiksa, disetrum oleh bosnya,” ungkapnya.
Saat ini, komunikasinya terputus total karena ponsel Hanif dikabarkan rusak. Di tengah kepanikan itu, Ijah sempat dihubungi seseorang yang mengaku teman Hanif dan meminta transfer uang sebesar Rp2,5 juta. Namun, Ijah mengabaikannya karena menduga itu adalah modus penipuan dari lingkungan kerja Hanif di Kamboja.
Terjerat Janji Manis “Adam”
Semua mimpi buruk ini bermula saat seseorang bernama Adam menawarkan pekerjaan di Thailand sebagai staf kantor dengan gaji Rp13 juta per bulan. Tergiur janji tersebut, Hanif rela meninggalkan pekerjaannya sebagai resepsionis sebuah hotel di Karawang.
Pada Oktober 2025, Adam menerbangkan Hanif ke Thailand. Namun setibanya di sana, Hanif justru dibawa melintasi perbatasan dan dipekerjakan di perusahaan online scam (penipuan daring) di Kamboja. Bukannya gaji belasan juta, Hanif justru harus berjuang bertahan hidup di bawah tekanan.
Minta Bantuan Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh.
Ijah Nurjanah berharap Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh dapat membantu menyelesaikan pesoalan anaknya di Kamboja.
“Sebagai orang tua, saya merasa sangat cemas karena putra kami berada dalam situasi yang sulit. Saya sangat berharap dapat segera pulang ke tanah air, berkumpul kembali bersama keluarga di Karawang. Besar harapan kami agar Bapak Bupati, melalui instansi terkait di Pemerintah Kabupaten Karawang, dapat memberikan bantuan, pendampingan, atau memfasilitasi koordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak berwenang guna mempercepat proses pemulangan anak kami. Kami percaya bahwa perlindungan terhadap warga Karawang, di mana pun mereka berada, adalah prioritas Bapak H. Aep Syaepuloh,” harap Ijah Nurjanah.
Ribuan WNI Terjebak
Menanggapi fenomena ini, Diplomat Madya Subdirektorat Kelembagaan dan Diplomasi Perlindungan Kementerian Luar, Rangga Yudha Negara, menjelaskan bahwa pemerintah Kamboja sedang gencar memberantas perusahaan penipuan online sejak 16 Januari 2026.
Hingga saat ini, KBRI Kamboja telah menerima 4.700 pengaduan, di mana 3.500 di antaranya telah mengisi formulir asesmen. Pihak KBRI memprediksi masih ada sekitar 55.000 Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya yang kemungkinan besar akan mengadukan kasus serupa.
Bagi Ijah, harta yang ludes tak lagi berarti. Fokusnya hanya satu: melihat Hanif kembali ke pelukannya di Sumurkondang dalam keadaan selamat. Meskipun belum tahu bagaimana cara memulangkannya.









