Menu

Mode Gelap
ILO Jakarta: Imbau Aktivis Pekerja Migran Pedomani Prinsip Perekrutan Adil dan Etis PMI Lebakwangi Serang Banten Siti Muijah: Dipaksa Kerja Meski Alami Pendarahan Di Riyadh Minim Risiko Tetap Untung, Pengusaha P3MI Wacanakan Konversi ke PKPMI Dukung Program MBG, Purna Pekerja Migran Cirebon Resmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI

Berita

Dukung Program MBG, Purna Pekerja Migran Cirebon Resmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

badge-check


					Sumber Didi Kusnadi Perbesar

Sumber Didi Kusnadi

Cirebon – Kelompok purna Pekerja Migran Indonesia (PMI)  yang tergabung dalam Asosiasi Pemberdayaan Purna Migran Indonesia Korea (APPIK) di Kabupaten Cirebon menunjukkan aksi nyata dalam mendukung program strategis nasional.

Melalui Yayasan Mawar Bina Insani, para purna migran meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Jumat, 6 Februari 2026 di Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, yang diproyeksikan menjadi motor penggerak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) gagasan Presiden Prabowo Subianto.

Acara peresmian ini dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan dan Reintegrasi Keluarga, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Hadi Wahyuningrum, S.H., M.H., atau yang akrab disapa Ibu Yayuk.

Inovasi Reintegrasi PMI

Dalam sambutannya, Ibu Yayuk memberikan apresiasi tinggi kepada Didi Kusnadi, Ketua Yayasan Mawar Bina Insani sekaligus purna PMI Korea Selatan, yang menjadi inisiator program ini. Menurutnya, langkah ini adalah terobosan dalam proses reintegrasi pekerja migran ke masyarakat.

“Apa yang dilakukan di Karangreja ini adalah best practice yang patut direplikasi. Kang Didi konsisten menghadirkan inovasi dalam pemberdayaan UMKM migran,” ujar Ibu Yayuk.

Model Pertama yang Terintegrasi UMKM

Keunikan SPPG Karangreja mendapat sorotan dari Kepala Dinas UMKM Kabupaten Cirebon, Dr. Alex Suheriyawan. Ia menegaskan bahwa SPPG ini merupakan pionir di Cirebon karena menggabungkan layanan gizi dengan penguatan ekonomi lokal.

“Ini adalah SPPG pertama yang terintegrasi langsung dengan UMKM, koperasi, dan melibatkan relawan purna PMI. Model kolaborasi seperti ini sangat relevan untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas,” tegas Alex.

Sinergi dan Kemandirian

Didi Kusnadi mengungkapkan bahwa berdirinya SPPG ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama dalam aspek permodalan dari tokoh seperti Bapak Risdiyanto dan Dr. Cahya Sutowo. Bagi Didi, dukungan ini adalah bukti kepercayaan publik terhadap kapasitas purna migran.

“Purna migran bukan hanya pulang membawa cerita, tetapi juga pengalaman dan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa. Kami siap menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional, khususnya dalam penguatan gizi masyarakat,” ungkap Didi.

Momen Menarik:

Acara ditutup dengan jamuan prasmanan unik, di mana seluruh hidangan dimasak langsung oleh para relawan SPPG yang merupakan purna PMI dari berbagai negara. Sajian tersebut menjadi simbol transformasi mereka: dari pekerja di negeri orang menjadi penggerak kesejahteraan di kampung halaman sendiri.

Turut hadir dalam peresmian tersebut perangkat desa Karangreja, unsur Muspika Kecamatan Suranenggala, serta tokoh masyarakat setempat.

Baca Lainnya

ILO Jakarta: Imbau Aktivis Pekerja Migran Pedomani Prinsip Perekrutan Adil dan Etis

10 Februari 2026 - 17:38 WIB

PMI Lebakwangi Serang Banten Siti Muijah: Dipaksa Kerja Meski Alami Pendarahan Di Riyadh

10 Februari 2026 - 15:17 WIB

Minim Risiko Tetap Untung, Pengusaha P3MI Wacanakan Konversi ke PKPMI

8 Februari 2026 - 14:03 WIB

IOM Indonesia Akan Gelar Pelatihan Perekrutan Adil dan Etis untuk Organisasi Masyarakat Sipil

6 Februari 2026 - 21:37 WIB

Waketum Apjati Maria Ginting: Kritik Keras Lambannya Birokrasi Penempatan PMI

5 Februari 2026 - 10:03 WIB

Trending di Berita