Hong Kong – Suasana dialog program “Pasti Ada Solusi” di Hong Kong terasa emosional ketika Dedi Christanto, perwakilan Komunitas Katolik Indonesia (KKI) di Hong Kong, maju menyampaikan kritik tajam langsung tanpa protokol di hadapan delapan menteri dan pejabat tinggi negara yang hadir.
Membawa tumpukan kasus riil yang ia tangani setiap hari bersama para konten kreator seperti Miss Yuni, Dedi menyuarakan jeritan tangis ratusan ribu pekerja migran yang selama ini dinilai luput dari perlindungan negara secara utuh. Ia bahkan menyerukan simbol “tiga jari” sebagai bentuk kekecewaan atas berbagai persoalan klasik yang tak kunjung usai.
“Tiga jari artinya marah, karena potongan agen masih 6–7 bulan gaji setiap tahun. Teman-teman pekerja migran yang baru datang ke Hong Kong masih mengalaminya. Kecewa, karena kalau lapor disuruh damai, tidak menyelesaikan masalah, mau lapor ke KJRI atau apalagi lapor ke agen,” ujar Dedi dengan nada berapi-api.
Di hadapan jajaran kementerian terkait, Dedi membedah satu per satu persoalan krusial yang menjerat sekitar 180 ribu lebih pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Berikut rangkuman todongan pertanyaan menohok dari Dedi Christanto kepada delapan kementerian:
- Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Dedi menagih komitmen pemerintah terkait kebijakan biaya nol alias zero cost. Ia mempertanyakan kapan kebijakan tersebut benar-benar terealisasi di lapangan, mengingat aturan pemotongan gaji 6 hingga 7 bulan oleh agen masih terus mencekik para pekerja baru.
- Kementerian Hukum Menyoroti skema hukum kerja di luar negeri, Dedi mengungkapkan bahwa 50 hingga 55 persen kontrak kerja yang diterima pekerja migran menggunakan bahasa Mandarin dan berstatus sebagai kontrak kosong. Ia menuntut kejelasan mengenai siapa yang akan mendampingi dan memberikan bantuan hukum (legal aid) jika buruh migran harus menyeret agen ke labor tribunal.
- Kementerian Luar Negeri Meskipun mengapresiasi kehadiran negara, ia menyoroti sengkarut birokrasi yang masih menyulitkan buruh migran saat hari libur (Minggu). Mulai dari antrean panjang pengurusan dokumen hingga mendesak negara untuk membersihkan jalur-jalur calo yang masih bebas beroperasi di Hong Kong.
- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Mengutip data dari Mission for Migrant Workers pada tahun 2025, Dedi membeberkan fakta mengejutkan bahwa terdapat 40 persen laporan kasus pelecehan seksual oleh majikan yang diterima setiap minggunya. Ia menyesalkan prosedur pelaporan yang kerap berujung pada pemulangan paksa tanpa kepastian keadilan hukum.
- Kementerian Imigrasi Dedi mendesak ketegasan pemerintah Indonesia untuk mem-blacklist agen maupun majikan yang nekat menahan paspor pekerja migran. Menurutnya, praktik penahanan paspor tersebut jelas merupakan tindakan ilegal yang dibiarkan tanpa sanksi tegas dari pihak berwenang di tanah air.
- Kementerian Sosial & Kementerian Dalam Negeri Ia menyuarakan problem sosial keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman, mulai dari anak-anak yang rentan mengalami stunting hingga fenomena stigmatisasi sosial di mana para pekerja migran perempuan kerap diidentifikasi secara keliru sebagai “janda kaya” sehingga dicoret dari daftar penerima bansos seperti PKH. Ia mendesak adanya integrasi data bahwa buruh migran adalah pekerja rentan yang membutuhkan perlindungan sosial.
- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Dedi menyoroti hak pendidikan anak-anak buruh migran yang hanya mendapat jatah cuti 14 hari setahun untuk menjenguk keluarga. Ia meminta kebijakan afirmatif khusus agar anak-anak buruh migran tidak dipersulit untuk mengakses sekolah negeri di tanah air semasih ibunya berjuang di luar negeri.
Di akhir penyampaiannya, Dedi juga mengingatkan ancaman kasus penipuan daring (scam) yang menjerat para buruh migran hingga berujung bui bertahun-tahun tanpa penghasilan, padahal mereka adalah tulang punggung keluarga (breadwinner).
“Apakah ini sampai ke telinga bapak-bapak menteri dan ibu? Siapa yang menanggung anak-anak mereka sekolah? Setiap hari saya menangani mereka, tentu saja mereka menangis. Dan kesempatan ini saya sampaikan tangis mereka untuk mereka. Salam tiga jari,” pungkas Dedi.









