Singapura — Fenomena alih profesi para kaum terpelajar Indonesia kini menembus batas baru yang kian memprihatinkan. Ketika persaingan mencari kerja di dalam negeri kian menyempit dan kesejahteraan tenaga pendidik makin terabaikan, gelar sarjana hingga magister kini bukan lagi jaminan hidup layak di Tanah Air.
Pengalaman pahit ini diungkapkan oleh seorang staf agensi We Are Caring, salah satu perusahaan penyalur Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Singapura, Arumi Marsudi.
Menurutnya, dalam proses pendataan calon pekerja migran, ia kerap menemukan para pemegang gelar akademis melamar untuk posisi Pekerja Rumah Tangga di luar negeri.
Dari Advokat hingga Magister Pendidikan
Fenomena hilangnya harapan di dalam negeri ini terjadi secara bertahap. Minggu lalu, agensi tersebut menangani berkas lamaran dari seorang Sarjana Hukum (S1) yang sebelumnya sudah memiliki karier di sebuah kantor firma hukum.
Namun, tekanan ekonomi dan kerasnya realita di lapangan membuatnya menyerah dan memutuskan berangkat sebagai PMI.
Kejadian yang lebih mengejutkan kembali terjadi baru-baru ini. Arumi menemukan berkas lamaran calon pekerja migran dengan kualifikasi pendidikan Magister (S2) dari salah satu universitas ternama.
“Siang ini, baru kali ini saya menemukan calon pelamar lulusan S2 jurusan pendidikan. Didorong rasa penasaran, saya sempat bertanya, apakah tidak sayang dengan ijazah S2-nya sampai mau melamar jadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Singapura?” ujar Arumi melalui keterangan tertulisnya (14/10/2026).
Guru Suruh Makan Apa? Tunjangan Berturut-turut Menunggak
Jawaban dari lulusan S2 tersebut membuka tabir kelam mengenai nasib pahlawan tanpa tanda jasa di Indonesia. Di balik gelar mentereng dan pengabdian mencerdaskan bangsa, kesejahteraan para guru di dalam negeri masih jauh dari kata memadai.
Pelamar tersebut mengungkapkan bahwa janji kesejahteraan dan hak dasar tenaga pendidik kerap diabaikan. Bahkan, hak atas gaji dan tunjangan yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari tidak kunjung cair dalam hitungan bulan.
“Pengen coba kerja di luar negeri, sulit jadi guru di Indonesia. Gajinya kecil dan sering telat. Contohnya dari bulan Juli sampai Oktober tunjangan sertifikasi belum juga keluar. Kalau gaji menunggak berbulan-bulan, guru suruh makan apa?” keluh calon PMI berijazah magister tersebut.
Ironisnya, jika dibandingkan dengan standar internasional, profesi guru di luar negeri umumnya mendapatkan penghargaan tinggi dengan remunerasi mencapai puluhan juta rupiah. Namun di dalam negeri, beban hidup dan ketidakpastian finansial justru memaksa para pendidik memilih pekerjaan domestik di mancanegara demi menyambung hidup.
Realita Buram Ekonomi dan Pendidikan Nasional
Proses pemberkasan pelamar lulusan S2 itu tetap diproses oleh pihak agensi dengan keprihatinan mendalam. Kisah ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia.
Fenomena lulusan S1 hingga S2 yang rela mengubur cita-cita dan karier akademisnya demi menjadi PRT di negeri orang menjadi indikator nyata atas rapuhnya sistem perlindungan dan penghargaan terhadap tenaga ahli serta akademisi di Tanah Air.









