Bagi Suster Laurensia Suharsih, tanggal 30 Juli bukan sekadar lembaran biasa di kalender. Momen Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia yang diperingati setiap tahunnya adalah pengingat berulang tentang perjuangan panjang, sebuah panggilan jiwa yang terus ia geluti bersama para aktivis kemanusiaan lainnya.
Di tengah maraknya gerakan dan kolaborasi antara lembaga sipil serta pemerintah, Suster Laurensia menyimpan kegelisahan mendalam.
Kejahatan perdagangan orang (human trafficking) bagai benalu yang terus beradaptasi: modus baru bermunculan, sementara para pelaku seakan tak tersentuh.
“Penanganan kejahatan ini seolah-olah jalan di tempat, bahkan abu-abu. Para pelaku masih merajalela, modus silih berganti. Bisnis ini sangat menggiurkan bagi mereka,” ungkapnya, saat menyuarakan keheranannya atas minimnya ketegasan penegakan hukum meski peta pergerakan pelaku kerap kali bukan lagi rahasia.
Manusia Lebih dari Sekadar Data
Bagi Suster Laurensia, perjuangan mendampingi para korban adalah urusan mempertahankan martabat kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa mereka yang terjerat dalam lingkaran kelam ini tidak boleh hanya dipandang sebagai deretan angka dalam statistik.
“Penyintas adalah saudara, Memiliki hak, harkat, dan martabat yang wajib dihargai penuh. Mereka butuh perlindungan Nyata. Harapan utamanya adalah hadirnya penanganan cepat dan sistem perlindungan yang benar-benar memihak pada korban,” tegasnya
Oleh karenanya, ia berharap adanya semangat Kolektif dan pentingnya menjaga kobaran semangat para pendamping di lapangan yang tiada henti mengulurkan tangan.
Menjaga Nyala Harapan Menuju Zero Trafficking
Meski jalan yang ditempuh kerap terjal dan penuh tantangan, Suster Laurensia tak berjalan sendirian. Kehadiran berbagai pihak, seperti kolaborasi International Organization for Migration (IOM), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta jejaring lembaga swadaya, menjadi sumber inspirasi dan energi baru baginya.
Sinergi yang makin kuat melalui edukasi dan penyadaran masyarakat membangkitkan optimisme bahwa arus kejahatan ini bisa diredam.
“Semoga harapan kami dapat terwujud untuk mengurangi jumlah korban. Semoga kita semua dapat mewujudkan Zero Human Trafficking di muka bumi ini.” harapnya
Di balik senyum tenang dan jubah kesederhanaannya, Suster Laurensia Suharsih terus berdiri kokoh. Ia adalah wujud nyata dari keteguhan hati: bahwa selama masih ada kemanusiaan, asa untuk membebaskan sesama dari belenggu perdagangan manusia tidak akan pernah padam.









