Menu

Mode Gelap
Neni Rosini: Mantan Pekerja Migran di Arab Saudi, Jadi Penulis Novel Digital Berprestasi Terbesar Sepanjang Sejarah, DPR Tetapkan Anggaran KP2MI Tahun 2027 Sebesar Rp3,9 Triliun Gempar! Podcast Faisal Soh. Bongkar Kesaksian CPMI Korban PT Cincau Ketum SPKP, Nursalim, Desak KP2MI Maksimalkan Anggaran Rp3,9 Triliun untuk Pelindungan Nyata PMI Lampung Tengah, Eka Yuliana, Beberkan Pengalaman Proses Penempatan Kerja ke Taiwan One-Forty Taiwan Gelar Survei Perlindungan Finansial Pekerja Migran Indonesia di Taiwan, Hadiah Rp3 juta

Berita

Sosok Garis Depan: Suster Laurensia Suharsih dan Asa Mengikis Kejahatan Perdagangan Manusia

badge-check


					Suster Laurensia Suharsih saat memperingati Hari Anti Trafficking bersama Aktivis IOM dan ILO Perbesar

Suster Laurensia Suharsih saat memperingati Hari Anti Trafficking bersama Aktivis IOM dan ILO

Bagi Suster Laurensia Suharsih, tanggal 30 Juli bukan sekadar lembaran biasa di kalender. Momen Hari Anti Perdagangan Orang Sedunia yang diperingati setiap tahunnya adalah pengingat berulang tentang perjuangan panjang, sebuah panggilan jiwa yang terus ia geluti bersama para aktivis kemanusiaan lainnya.

Di tengah maraknya gerakan dan kolaborasi antara lembaga sipil serta pemerintah, Suster Laurensia menyimpan kegelisahan mendalam.

Kejahatan perdagangan orang (human trafficking) bagai benalu yang terus beradaptasi: modus baru bermunculan, sementara para pelaku seakan tak tersentuh.

“Penanganan kejahatan ini seolah-olah jalan di tempat, bahkan abu-abu. Para pelaku masih merajalela, modus silih berganti. Bisnis ini sangat menggiurkan bagi mereka,” ungkapnya, saat menyuarakan keheranannya atas minimnya ketegasan penegakan hukum meski peta pergerakan pelaku kerap kali bukan lagi rahasia.

Manusia Lebih dari Sekadar Data

Bagi Suster Laurensia, perjuangan mendampingi para korban adalah urusan mempertahankan martabat kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa mereka yang terjerat dalam lingkaran kelam ini tidak boleh hanya dipandang sebagai deretan angka dalam statistik.

“Penyintas adalah saudara, Memiliki hak, harkat, dan martabat yang wajib dihargai penuh. Mereka butuh perlindungan Nyata. Harapan utamanya adalah hadirnya penanganan cepat dan sistem perlindungan yang benar-benar memihak pada korban,” tegasnya

Oleh karenanya, ia berharap adanya semangat Kolektif dan pentingnya menjaga kobaran semangat para pendamping di lapangan yang tiada henti mengulurkan tangan.

Menjaga Nyala Harapan Menuju Zero Trafficking

Meski jalan yang ditempuh kerap terjal dan penuh tantangan, Suster Laurensia tak berjalan sendirian. Kehadiran berbagai pihak, seperti kolaborasi International Organization for Migration (IOM), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), serta jejaring lembaga swadaya, menjadi sumber inspirasi dan energi baru baginya.

Sinergi yang makin kuat melalui edukasi dan penyadaran masyarakat membangkitkan optimisme bahwa arus kejahatan ini bisa diredam.

“Semoga harapan kami dapat terwujud untuk mengurangi jumlah korban. Semoga kita semua dapat mewujudkan Zero Human Trafficking di muka bumi ini.” harapnya

Di balik senyum tenang dan jubah kesederhanaannya, Suster Laurensia Suharsih terus berdiri kokoh. Ia adalah wujud nyata dari keteguhan hati: bahwa selama masih ada kemanusiaan, asa untuk membebaskan sesama dari belenggu perdagangan manusia tidak akan pernah padam.

Baca Lainnya

Neni Rosini: Mantan Pekerja Migran di Arab Saudi, Jadi Penulis Novel Digital Berprestasi

19 September 2026 - 19:13 WIB

Terbesar Sepanjang Sejarah, DPR Tetapkan Anggaran KP2MI Tahun 2027 Sebesar Rp3,9 Triliun

19 September 2026 - 08:32 WIB

Gempar! Podcast Faisal Soh. Bongkar Kesaksian CPMI Korban PT Cincau

18 September 2026 - 23:59 WIB

Ketum SPKP, Nursalim, Desak KP2MI Maksimalkan Anggaran Rp3,9 Triliun untuk Pelindungan Nyata

18 September 2026 - 21:54 WIB

PMI Lampung Tengah, Eka Yuliana, Beberkan Pengalaman Proses Penempatan Kerja ke Taiwan

17 September 2026 - 20:06 WIB

Trending di Berita