Jeddah – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Pintu Air Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, bernama Miliana, kini harus terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Jeddah, Arab Saudi.
Miliana mengalami patah tulang serius di bagian kaki dan tangan setelah nekat melompat dari jendela apartemen demi menyelamatkan diri dari penyekapan.
Kejadian tragis ini bermula ketika Miliana, yang baru bekerja selama satu bulan di bawah naungan Syarikat Al-Mawarid, merasa tidak tahan dengan perlakuan majikannya di wilayah Tabuk. Miliana mengaku kerap mendapatkan kekerasan fisik karena kendala bahasa.
“Majikan galak, saya dipukuli karena kurang paham bahasanya. Akhirnya saya niat kabur,” ujar Meliana dalam sebuah percakapan yang terekam saat ia dijenguk oleh aktivis Pekerja Migran Indonesia di Jeddah Arab Saudi, Dewi Srikandi.
Terjebak ‘Taksi Gelap’ dan Penyekapan
Pelarian Meliana ternyata membawanya ke lubang jarum yang lebih berbahaya. Setelah berhasil keluar dari rumah majikan, ia meminta bantuan seseorang di pom bensin untuk memesankan taksi menuju terminal. Namun, kendaraan yang datang diduga merupakan taksi liar atau “taksi jalanan”.
Di terminal Tabuk, dalam kondisi tidak memiliki uang, Meliana bertemu dengan seorang pria warga lokal yang menawarkan bantuan untuk mengantarkannya ke kantor Syarikat (perusahaan agensi).
Percaya dengan niat baik tersebut, Miliana justru dibawa menempuh perjalanan puluhan jam menuju Jeddah.
Bukannya diantar ke kantor agensi, Miliana justru disekap di sebuah apartemen di kawasan Jeddah. Seluruh barang berharga miliknya, termasuk dua unit ponsel dan paspor, dirampas oleh pria tersebut.
“Dia bilang, ‘Kamu kerja di sini tanpa dibayar’. Tas dan HP saya diambil semua,” kenang Miliana dengan nada getir.
Nekat Lompat Menggunakan Sprei
Hanya bertahan satu setengah hari dalam penyekapan, Miliana mengambil keputusan nekat saat penjaganya pergi. Ia menyobek kain selimut dan sprei, lalu menyambungnya menjadi tali panjang untuk turun melalui jendela kecil yang tidak berjeruji.
Nahas, saat mencoba turun dari ketinggian yang diduga lantai dua apartemen tersebut, ia terjatuh dan tidak sadarkan diri hingga akhirnya dievakuasi oleh ambulans ke rumah sakit terdekat.
Pesan untuk Pekerja Migran
Dewi Srikandi, yang menjenguk Miliana di rumah sakit, mengingatkan rekan-rekan PMI lainnya agar tidak melakukan tindakan nekat yang membahayakan nyawa. Ia menekankan pentingnya prosedur resmi dan komunikasi yang baik dengan keluarga.
“Jangan nekat kabur sendiri, apalagi lewat jalur yang tidak resmi. Ingat, nyawa lebih berharga dan keluarga menanti di rumah,” ujar Dewi.
Saat ini, Miliana masih membutuhkan perawatan medis intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya yang mengalami patah tulang di beberapa bagian.
Pihak-pihak terkait diharapkan dapat segera membantu proses komunikasi dengan keluarganya di Kampung Pintu Air, Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, mengingat ponsel milik korban telah hilang dirampas.









