Jakarta – Federasi Buminu Sarbumusi melayangkan kritik keras terhadap pelayanan di Lounge Khusus Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Fasilitas yang semestinya menjadi simbol perlindungan negara bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan anggota keluarganya justru dipersepsikan menakutkan karena layanan buruk.
Protes ini mencuat setelah sejumlah keluarga PMI mengaku diperlakukan tidak pantas oleh petugas lounge. Mereka disebut berulang kali diinterogasi dengan pertanyaan seperti “atas rekomendasi siapa” dan “dari mana”, bahkan dihubungi kembali dengan marah-marah dengan nada tinggi, yang dinilai tidak sesuai standar pelayanan publik.
Ketua Umum Federasi Buminu Sarbumusi, Ali Nurdin, menyebut kejadian tersebut sebagai tamparan keras bagi wajah pemerintah dalam pelayanan pelindungan.
Menurut Ali, Lounge PMI dibangun sebagai fasilitas Very Very Important Person (VVIP) dengan ruang tunggu nyaman, jalur cepat imigrasi, posko pengaduan, dan pusat informasi. Namun, menurut Federasi Buminu Sarbumusi, praktik di lapangan justru menyerupai birokrasi feodal yang sarat izin dan rekomendasi personal.
“Saya menilai kasus ini bukan sekadar insiden personal, melainkan indikasi masalah sistemik dalam tata kelola pelindungan PMI di bandara. Jika sekeluarga PMI saja dipersulit, maka bagaimana PMI yang pulang sendirian, dalam kondisi trauma atau membawa kasus hukum, dipastikan akan berpotensi tidak mendapatkan layanan yang baik,” ujarnya.
Atas kejadian tersebut, atas nama Federasi Buminu Sarbumusi, Ali menuntut Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia memperbaiki layanan, antara lain: Pertama. Evaluasi dan teguran resmi terhadap petugas lounge. Kedua. Pembenahan SOP pelayanan tanpa diskriminasi. Ketiga. Pelarangan praktik interogatif terhadap PMI dan keluarga. Keempat. Pelatihan petugas berbasis HAM dan pelindungan PMI. Kelima. Jaminan tertulis agar kejadian serupa tidak terulang.
Ali Nurdin menegaskan akan terus mengawal kasus ini, bahkan tidak menutup kemungkinan membawa persoalan tersebut kepada Ombudsman RI, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) hingga Komnas HAM bila tidak ada perbaikan nyata.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Lounge PMI Bandara Soekarno-Hatta belum memberikan pernyataan resmi.
Sebelumnya, Fbuminu Sarbumusi mengadvokasi seorang PMI yang bekerja di Arab Saudi atas nama Saodah asal Kabupaten Tangerang Banten. Dia merupakan orang tua tunggal yang niatannya ke luar negeri untuk membesarkan dan mendidik anaknya yang sudah sekolah dasar.
Namun sesampai di Arab Saudi, dia mengalami persoalan administrasi dan ketenagakerjaan. Majikan tidak mengurus iqomah sejak awal kedatangannya, hingga 5 bulan setelah finish kontrak. Selain itu majikan juga tidak mau membayar gajinya selama 5 bulan berturut-turut. Setelah kabur dari majikan, Saodah mengalami sakit berkepanjangan. Sampai akhirnya dibantu oleh para pegiat Fbuminu Sarbumusi Arab Saudi.
Saodah tiba di Bandara Soekarno Hatta Jum’at malam, tanggal 26 Desember 2025. Kedatangannya disambut oleh ketua rombongan Asep Sunia.








