Gaza – Setiap aksi kemanusiaan selalu berawal dari sebuah kisah manusia: tentang seseorang yang bersedia mendengar.
Dunia kerap hanya melihat hasil akhirnya: sebuah keluarga menerima bantuan, tempat tinggal yang mulai diperbaiki, atau sebuah komunitas yang kembali bangkit. Namun, ada sosok-sosok yang sering luput dari perhatian.
Merekalah para pekerja kemanusiaan, orang-orang yang tekun mendengarkan, memahami kebutuhan warga, dan mewujudkan pembicaraan itu menjadi aksi nyata.
Di Gaza, para pekerja ini sebenarnya menghadapi krisis, pengungsian, dan ancaman keselamatan yang sama seperti warga yang mereka bantu.
Kendati demikian, mereka tetap hadir untuk keluarga yang terdampak. Nour, Samah, dan Rafa adalah tiga di antaranya. Bekerja sama dengan mitra Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di garis depan aksi kemanusiaan, masing-masing memegang peran penting dalam mendampingi masyarakat.
Merekam Pengalaman dan Rasa Kehilangan

Rafa dan rekan-rekannya dari BLDA saat melakukan upaya keselamatan dan pembenahan di lokasi pengungsian di Gaza. Sumber BLDA
“Terkadang rasanya sungguh menyakitkan. Sebagai pekerja kemanusiaan, Anda membagikan bantuan kepada keluarga-keluarga di sana, sambil menyadari bahwa ada hal-hal dasar yang bahkan tak mampu Anda sediakan untuk keluarga sendiri,” tutur Nour, seorang fotografer di PHC mitra IOM.
Nour, yang berlatar belakang hukum, mengawali kiprah kemanusiaannya sebagai relawan di organisasi lokal. Kala itu, ia memfasilitasi sesi edukasi bagi perempuan serta memberikan layanan konseling pernikahan.
Langkah ini mengantarkannya menjadi koordinator lapangan yang berinteraksi langsung dengan warga terdampak.
Pekerjaan ini pula yang membantu Nour bertahan melewati duka pribadi. Ketika tunangannya meninggal pada Maret 2025, ia hanya sempat mengambil cuti beberapa hari.
Kembali bekerja dalam situasi berduka tentu tidak mudah, tetapi sibuk membantu orang lain perlahan menjadi cara Nour menyembuhkan luka hatinya.
“Setiap kali membantu seseorang, dalam hati saya merasa sedang melakukannya untuk mengenang almarhum,” ungkapnya.
“Pekerjaan ini benar-benar mengubah saya. Mengunjungi tenda pengungsian dan menyaksikan kerapuhan hidup orang-orang setiap hari mengubah cara pandang saya. Saya jadi lebih menghargai hal-hal kecil yang dulu sering saya anggap remeh.” Katanya.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan tugas membawa Nour ke dunia fotografi. Bagi Nour, membidikkan kamera bukan sekadar mengambil gambar, melainkan memastikan bahwa perjuangan keluarga-keluarga yang ia temui terdokumentasikan secara bermartabat.
“Saya tidak keberatan menghadapi momen-momen berat. Saya ingin dunia melihat apa yang sebenarnya dialami oleh keluarga-keluarga ini.”
Menjadi Penyambung Suara Perempuan Pengungsi
Bagi Samah, tidak pernah ada hari yang sama. Sebagai koordinator penampungan di Ma’an yang juga mitra IOM, tugas hariannya adalah mendatangi keluarga yang terpaksa berpindah-pindah pengungsian, mendengarkan keluh kesah mereka, dan memastikan mereka mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
“Pada dasarnya, kami adalah jembatan antara para perempuan pengungsi dan bantuan yang tersedia. Kami memperkuat suara mereka, berupaya memenuhi kebutuhan mereka, dan memperjuangkan hak-hak mereka,” jelas Samah.
Setiap kunjungan membawa tantangannya sendiri. Berbekal pengalaman lebih dari satu dekade di dunia kemanusiaan, Samah paham betul betapa pentingnya mendengarkan dan memahami realitas hidup warga setempat.
“Setiap malam saya pulang dengan hati yang berat. Saya pikir lama-lama akan terbiasa, tetapi melihat penderitaan orang lain secara langsung adalah hal yang tidak akan pernah bisa biasa.” Katanya.
Sejak 2013, Samah telah memegang berbagai peran, termasuk sebagai manajer proyek yang membantu warga mengakses layanan perlindungan dan tempat tinggal. Pengalaman panjang ini kini ia curahkan untuk memastikan kebutuhan dan suara kaum perempuan benar-benar didengar serta diakomodasi dalam setiap penyaluran bantuan.
“Hidup di pengungsian mengajarkan saya untuk banyak bersyukur. Melihat perjuangan orang lain membuat saya menyadari betapa berharganya setiap berkah dalam hidup saya.” tegasnya
Menembus Jarak dan Menjangkau Warga
Rafa (25 tahun) paham betul beratnya hidup sebagai pengungsi. Ia mengambil keputusan berani untuk pindah ke Beit Lahia demi membantu sesama, sebuah langkah yang tidak mudah dan tergolong tidak biasa bagi perempuan di komunitasnya.
Mantan insinyur ini kini bertugas sebagai koordinator lapangan BLDA, organisasi mitra IOM. Tugasnya adalah mendata kebutuhan keluarga pengungsi serta membenahi fasilitas dan layanan di lokasi penampungan.
“Saya tinggal di Deir Al Balah, sementara keluarga saya mengungsi di Kota Gaza. Jaraknya sebenarnya hanya 15 menit berkendara, tetapi saya tidak bisa sering menemui mereka karena ongkos transportasi yang sangat mahal. Saya sangat merindukan teman dan keluarga. Ada kalanya saya merasa butuh seseorang untuk diajak bicara,” cerita Rafa.
Pengalaman hidupnya sendiri membuat Rafa lebih mudah berempati dan terhubung dengan para perempuan di pengungsian.
“Saya mencoba merangkul para perempuan yang harus mengurus keluarga seorang diri. Banyak dari mereka merasa lebih nyaman bercerita dan meminta petunjuk kepada saya.” jelasnya
Harapan di Tengah Risiko
Sejak Oktober 2023, IOM telah berjejaring dengan berbagai mitra lokal di seluruh Gaza untuk menanggapi krisis kemanusiaan yang mendesak.
Melalui jaringan ini, IOM telah menyalurkan lebih dari 1,3 juta unit bantuan, mulai dari tempat bernaung, pengelolaan area penampungan, hingga perlengkapan rumah tangga, bagi keluarga-keluarga terdampak.
Kehadiran sosok seperti Nour, Samah, dan Rafa adalah kunci di balik terselenggaranya bantuan tersebut. Di Gaza, tempat ratusan pekerja kemanusiaan gugur dalam tiga tahun terakhir, kisah mereka menjadi pengingat penting: di balik setiap bantuan yang tersalurkan, ada manusia-manusia tangguh yang juga membutuhkan keselamatan dan perlindungan agar dapat terus mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan.
Artikel ini ditulis oleh Rayya Al Muheisen, Asisten Senior Komunikasi dan Media di IOM OPT, Tanggap Gaza dilansir dari media resmi IOM .









