Menu

Mode Gelap
Masuk Kabinet, Persatuan Buruh Migran Sebut Said Iqbal Penuhi 4 Syarat ‘Manusia Politik’ SPKP, Disnaker Tegal dan KP2MI Akan Gelar Sosialisasi Penempatan Awak Kapal Migran Berkat Gotong Royong, Nunung, Pekerja Migran Karawang yang Stroke di Taiwan Akhirnya Bisa Pulang 4 Usulan Perpemindo untuk Perbaikian Permen P2MI Tentang Tata Cara Pelakanaan Penempatan PMI Tiga Asosiasi P3MI Desak Revisi Dua Permen P2MI: Pelaksanaan Penempatan dan Persyaratannya Marak Penipuan Loker Luar Negeri, Aktivis Tuntut Pemerintah Tegas Bubarkan LPK

Tokoh

Kecewa Iklan Gaji Korea Selatan Rp24–50 Juta, Realita PMI Beda Cerita

badge-check


					Situasi kerja di Pabrik Peleburan Korea Selatan | Sumber PMi Korsel Perbesar

Situasi kerja di Pabrik Peleburan Korea Selatan | Sumber PMi Korsel

Korea Selatan – Iklan kerja di Korea Selatan yang menjanjikan gaji fantastis Rp24–50 juta per bulan ternyata menyisakan kekecewaan bagi sebagian Pekerja Migran Indonesia (PMI). Seorang PMI dengan akun Pmi Korsel membagikan pengalamannya setelah berproses selama tiga tahun hingga akhirnya bisa bekerja di pabrik peleburan di Songjeong-dong, Korea Selatan.

Meski iklan terlihat menggiurkan, kenyataan di lapangan berbeda. “Meskipun gaji sesuai upah minimum Rp24 juta, potongannya banyak. Bersihnya tinggal Rp19 juta, dan setelah dikurangi biaya makan hanya Rp16 juta,” tulisnya. Baginya, janji manis iklan tidak sehangat kenyataan musim dingin yang menusuk hingga 3 derajat.

Namun, ia tetap menanamkan semangat dengan motto pribadi: “TKI bukan hanya pekerja, tapi pejuang yang menukar lelah demi masa depan keluarga.” Ia juga menegaskan bahwa TKI adalah singkatan dari Tenang, Kuat, Ikhlas.

Hitung-Hitungan Gaji PMI di Korea Selatan

Agar tidak menjadi korban iklan, ia membuat perhitungan realistis:

  • Kerja 8 jam per hari (24 hari/bulan): ₩2.096.270 ≈ Rp24,3 juta
  • Kerja + lembur 3 jam per hari: ₩3.337.003 ≈ Rp37,9 juta
  • Shift malam + lembur 3 jam per hari: lebih tinggi dari perhitungan lembur pagi

Dengan demikian, gaji Rp24–50 juta memang mungkin dicapai, tetapi bergantung pada jam kerja, lembur, dan jenis shift.

Unggahan tersebut memicu beragam komentar dari sesama PMI dan warganet. Ada yang menganggap Rp16 juta sudah besar: seperti Eni Aza (PMI Hong Kong): “Rp16 juta itu banyak loh.” Sicx Ska: “Sudah sangat lumayan, sisanya bisa ditabung.” Mik Mik: “Rp16 juta x 12 bulan = Rp192 juta. Itu lebih dari cukup, bersyukur dong.”

Ada juga yang mengajak untuk bersyukur. Seperti Dilya Naufalyn yang menasihati, “Disyukuri mas, badanmu pegal tapi gaji bersih Rp16 juta itu luar biasa.” katanya. Shw Ckt Hnn mendoakan, “Semoga kita semua diberi rasa syukur, sabar, ikhlas, dan kesehatan.” katanya. Begitu juga dengan pemilik akun Nsm Ke yang mengatakan, “Kalau nggak bersyukur, kebangetan.”

Ada juga yang menyuruh membandingkan dengan gaji di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh Luwes, “Rp16 juta kok sedikit, di Indonesia cari gaji Rp3 juta kotor aja susah.” katanya. Sementara Libero Cahwilisc, “Lumayan daripada di Indonesia, gaji Rp3 juta habis buat kos, makan, bensin, dan kebutuhan lain, ”komentarnya.

Ada juga yang membelanya dengan pertimbangan pengorbanan seperti Bayu Saputra, yang mengomentari, “Ada harga yang harus dibayar, jauh dari keluarga. Setiap keputusan pasti ada pengorbanan, jelasnya. Sifa Tani Koi dengan tegas membela, “Kalau tahu kerasnya kerja di sini, nggak akan bilang begitu bro,” tegasnya.

Komentar-komentar ini menunjukkan adanya dua sudut pandang: sebagian melihat gaji Rp16 juta sebagai peluang besar dibandingkan kondisi di Indonesia, sementara sebagian lain menyoroti kerasnya kerja dan pengorbanan jauh dari keluarga.

Semangat di Balik Perjuangan

Meski kecewa dengan iklan yang terkesan berlebihan, PMI tersebut tetap menekankan pentingnya mental baja. “Jadilah TKI yang bukan hanya bekerja keras, tapi juga berpikir cerdas dan berhati ikhlas,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses menuju Korea Selatan bukanlah hal instan. “Kalau ditanya kapan berangkat, jawabnya menunggu saat yang tepat. Kalau ditanya berapa biaya, aku sudah lupa menghitungnya. Yang ku hitung hanya berapa banyak orang yang proses, dan aku harus mampu bersaing dengan mereka.”

Tulisan ini menjadi refleksi bagi calon PMI: gaji besar di luar negeri memang nyata, tetapi ada potongan, biaya hidup, dan pengorbanan yang harus diperhitungkan. Dengan semangat Tenang, Kuat, Ikhlas, para PMI diharapkan bisa menatap masa depan dengan lebih realistis sekaligus penuh harapan.

Baca Lainnya

Tiga Asosiasi P3MI Desak Revisi Dua Permen P2MI: Pelaksanaan Penempatan dan Persyaratannya

3 Juni 2026 - 22:12 WIB

Curhatan Seorang Pekerja Migran Indonesia, Antara Kebutuhan Keluarga dan Dirinya

29 Mei 2026 - 11:11 WIB

H. Bukhori, Anggota DPRD Karawang, Komit Kawal Kasus Penempatan Ilegal Warganya di Disnaker

22 Mei 2026 - 17:22 WIB

Kadin, Undang Aktivis dan Pengusaha P3MI Bahas Penempatan PMI ke Arab Saudi

21 Mei 2026 - 17:50 WIB

Polres Lombok Tengah Dukung Penuh PBM NTB Memberantas Calo Penempatan Ilegal

20 Mei 2026 - 10:37 WIB

Trending di Berita