Menu

Mode Gelap
Mabes Polri dan Dirjen Imigrasi Tangkap 251 Warga Asing Pelaku Penipuan Online Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan Dialog Multi Pemangku Kepentingan: Membuka Jalan Perekrutan yang Adil dan Etis Menteri Mukhtarudin Gunakan Formula 60:40 Dalam Pelindungan dan Penempatan Pekerja Migran Yuswati, PMI Simpenan Sukabumi Kritis di Abu Dhabi, Keluarga Mohon Bantuan Pemulangan Akibat Ditempatkan Ilegal, Ahli Waris Tidak Dapat Santunan Kematian Rp100 juta

Berita

Kasus Eka Ernawati: Potret Buram Penempatan Non Prosedural PMI ke Arab Saudi Oleh P3MI

badge-check


					Eka bersama Ali Nurdin saat tiba di Bandara Soetta pada Rabu 14/1/2026 Perbesar

Eka bersama Ali Nurdin saat tiba di Bandara Soetta pada Rabu 14/1/2026

Jakarta – Kasus yang menimpa Eka Ernawati, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali membuka bobroknya tata kelola penempatan dan perlindungan PMI di Arab Saudi. Di balik cerita kekerasan, penelantaran, dan ketidakpastian pemulangan, tersimpan dugaan pelanggaran sistemik sejak proses awal keberangkatan di tanah air.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Federasi Buruh Migran Nusantara (FBuminu) Sarbumusi Ali Nurdin Abdurahman melalui siaran tertulis pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Menurut Ali, berdasarkan kronologi yang disampaikan Eka menunjukkan indikasi kuat adanya praktik pemalsuan data penempatan. Pada Februari 2025, ia menjalani pemeriksaan kesehatan di Klinik SMC Sumbawa, lalu seleksi di Dinas Tenaga Kerja pada Maret. Saat itu, ia disuruh mengaku akan bekerja sebagai cleaner service, padahal yang sebenarnya adalah sebagai Pekerja Rumah Tangga di Arab Saudi.

“Praktik manipulasi jenis pekerjaan ini bukan hal baru. Kami berulang kali menemukan modus serupa untuk mengakali regulasi penempatan ke negara tujuan yang rawan kasus kekerasan, seperti Arab Saudi,” ujarnya

Diteruskan, manipulasi berlanjut ketika Eka diproses di PT Duta Banten Mandiri. Ia kembali diminta memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan realitas pekerjaan.

“Artinya, proses penempatan yang dilakukan oleh PT Duta Banten Mandiri sudah cacat hukum,” tegasnya.

Kemudian, Eka diberangkatkan pada 24 April 2025. Setibanya di Riyadh, ia ditempatkan di sebuah syarikah dan kemudian disalurkan kepada majikan pada 4 Mei. Di sinilah rentetan kondisi kerja yang buruk mulai dialaminya terjadi.

“Eka mengalami kekerasan fisik dan psikis dari majikan dan anaknya. Namun laporan ke perusahaan penyalur di Indonesia tidak ditindaklanjuti. Alih-alih melindungi, perusahaan justru memarahi dan menuduhnya berbohong,” jelas Ali.

Selain itu ponselnya juga dirampas, mengalami penelantaran hingga pengurungan. Pengalaman tersebut memaksanya kabur ke KBRI pada 22 Mei. Namun sayangnya gagal karena keterbatasan akses. Hal ini mengakibatkan ia dikurung selama seminggu sebelum dipindahkan ke penampungan lain.

Meski dijanjikan pulang, Eka justru berbulan-bulan tanpa kepastian. Dari Mei hingga Juli 2025, ia sakit dan beberapa kali dirawat dengan infus, namun tetap tidak dipulangkan. Bahkan ia mengalami tekanan fisik dan psikologis yang lebih dalam karena harus bekerja tanpa gaji.

Pada Agustus, ia dijanjikan pemulangan setelah tiga bulan kerja. Janji itu kembali tidak ditepati. Hingga lima bulan berlalu, Eka tetap bekerja dengan gaji lebih rendah dari perjanjian awal: 1.200 riyal dari yang dijanjikan 1.500 riyal, dengan beban kerja berlebih dan pembayaran kerap terlambat. Kondisi ini diperparah oleh riwayat penyakit malaria yang kambuh di tengah musim dingin.

“Kasus Eka mengkonfirmasi buruknya kondisi kerja di Arab Saudi meskipun ditempatkan oleh Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia yang resmi,” tegasnya.

Setelah menunggu kepastian pemulangan. Melalui berbagai upaya: permohonan ke Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan wakil rakyat, akhirnya pada Rabu 14 Januari 2026, Eka dipulangkan.

Baca Lainnya

Mabes Polri dan Dirjen Imigrasi Tangkap 251 Warga Asing Pelaku Penipuan Online

9 Mei 2026 - 15:15 WIB

Kisah Vika, Caregiver Asal Ponorogo yang Jadi Penari Tradisional Populer di Taiwan

8 Mei 2026 - 15:36 WIB

Dialog Multi Pemangku Kepentingan: Membuka Jalan Perekrutan yang Adil dan Etis

7 Mei 2026 - 21:45 WIB

Menteri Mukhtarudin Gunakan Formula 60:40 Dalam Pelindungan dan Penempatan Pekerja Migran

7 Mei 2026 - 19:53 WIB

Yuswati, PMI Simpenan Sukabumi Kritis di Abu Dhabi, Keluarga Mohon Bantuan Pemulangan

6 Mei 2026 - 14:55 WIB

Trending di Abu Dhabi UEA