Menu

Mode Gelap
Terjebak di Kamboja: Kisah Pilu Elinda, PMI Bogor Kelaparan dan Ingin Bunuh Diri Hari Pelaut Sedunia 2026: Menjalankan Perdagangan Dunia, Menanggung Risiko, Menunggu Kepastian Hukum Agus Gia Apresiasi Konsuler KBRI Amman Pantau Kondisi PMI Sukabumi Korban Trafficking Beban Biaya Perawatan Rp1,3 Miliar, Nurlani Akhirnya Diselamatkan Solidaritas Buruh Lintas Negara Anggota DPR Cellica Nurrachadiana Desak Disnaker Karawang Cegah Penempatan Non Prosedural Indonesia-Jerman Teken LoI Peningkatan Kapasitas CPMI Sektor Kesehatan dan Teknologi Tinggi

Berita

Terjebak di Kamboja: Kisah Pilu Elinda, PMI Bogor Kelaparan dan Ingin Bunuh Diri

badge-check


					Elinda Sari kelaparan dan putus asa karena tidak punya uang untuk makan dan biaya tiket pulang dari Kamboja Perbesar

Elinda Sari kelaparan dan putus asa karena tidak punya uang untuk makan dan biaya tiket pulang dari Kamboja

Phnom Penh — Jeritan hati datang dari seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Bogor, Elinda Sari (26). Sudah lima bulan lamanya ia terkatung-katung di Shelter KBRI Phnom Penh, Kamboja. Alih-alih mendapatkan perlindungan penuh, Elinda mengaku kini didera kelaparan dan frustrasi berat hingga terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupnya.

“Untuk makan saja kalau ada uang, ya makan. Kalau gak ada uang, ya kelaparan lah. Sekarang di penampungan pun membuat aku benar-benar frustrasi, rasanya pengen bunuh diri karena bingung makan apa, dan harus pulang pakai apa. Aku benar-benar gak ada uang,” ujar Elinda dengan nada putus asa kepada Berita Buruh Migran, Selasa (23/6/2026).

Bertahan Hidup di Penampungan Bersama Kekasih

Setelah tidak tahan dengan siksaan mafia online scam, Elinda melarikan diri. Sejak Januari 2026, ia dan kekasihnya akhirnya mengamankan diri di Shelter KBRI.

Teman-teman seangkatannya sudah berhasil pulang karena dibantu oleh keluarganya di Indonesia. Sementara Elinda yang sudah yatim tidak memiliki keluarga, hanya bisa menggigit jari.

Menurut Elinda, kondisi di penampungan pun kini semakin memprihatinkan karena bantuan makan dihentikan. KBRI dikabarkan sudah tidak lagi menanggung biaya makan para penghuni shelter. Uangnya sudah habis, uang yang tersisa hanya cukup untuk menyambung nyawa sehari-hari, menabung untuk tiket pulang mustahil terkumpul. Selain itu juga Visa sudah kedaluwarsa. Visa milik Elinda sudah mati sejak Februari 2026 lalu. Pihak KBRI sejauh ini hanya bisa membantu proses pemutihan visa, bukan memulangkannya.

Respons Dingin dan Janji Palsu Dinas Sosial

Upaya Elinda untuk mencari pertolongan ke tanah air kerap menemui jalan buntu. Sekitar sebulan lalu, ia sempat berhasil menghubungi admin Dinas Sosial Kabupaten Bogor. Pihak Dinsos sempat berjanji akan membantu, namun kini komunikasi tersebut putus total.

“Sampai sekarang gak ada kabarnya lagi, sudah satu bulanan gak ada respons. Saya sampai kelaparan di penampungan, benar-benar butuh bantuan pun tetap gak ada respons,” keluhnya.

Lebih menyakitkan lagi, Elinda mengaku mendapatkan perlakuan dan ucapan dingin dari oknum pihak KBRI ketika dirinya mencoba meminta bantuan pekerjaan sementara demi bisa bertahan hidup.

“Padahal aku di penampungan benar-benar telantar kelaparan butuh bantuan, cari kerja pun susah. Minta kerjaan sama pihak KBRI pun, pihak KBRI malah mengatakan, emangnya kamu siapa saya? Saudara bukan, keluarga bukan, teman bukan, kok minta kerjaan sama saya?'” tutur Elinda menirukan ucapan oknum tersebut.

Berawal Sejak Juli 2025: Tergiur Lowongan Pemetik Buah

Malapetaka yang menimpa warga Kampung Plered Pabuaran, Kecamatan Bojong Gede Bogor ini bermula pada awal Juli 2025. Saat itu, ia tergiur lowongan kerja luar negeri yang berseliweran di media sosial. Iklan tersebut menawarkan posisi sebagai pemetik buah di Malaysia dengan janji gaji yang sangat besar.

Namun, janji manis itu berubah menjadi siasat licik. Setelah proses kilat selama seminggu sejak pendaftaran di bulan Juli 2025 tersebut, Elinda memang diterbangkan ke Malaysia, namun hanya untuk transit. Tujuan aslinya ternyata adalah sarang mafia online scam di Kamboja.

Disiksa dan Tak Digaji karena ‘Gagal Menipu’

Selama enam bulan bekerja di perusahaan ilegal tersebut, Elinda mengaku tidak pernah menerima gaji sepeser pun.

“Akibat tidak pernah mendapat omset scam, jadinya aku juga gak pernah terima gaji. Aku gagal terus karena tidak bisa menipu,” ungkapnya.

Karena gagal mencapai target tipu-tipu tersebut, Elinda harus menerima hukuman fisik hampir setiap hari dan dipaksa kerja lembur hingga membuatnya nyaris gila.

Kini, Elinda dan kekasihnya hanya bisa berharap ada keajaiban atau uluran tangan dari dermawan maupun donatur yang tergerak hatinya untuk membebaskan mereka dari jerat penderitaan di negeri orang.

Baca Lainnya

Hari Pelaut Sedunia 2026: Menjalankan Perdagangan Dunia, Menanggung Risiko, Menunggu Kepastian Hukum

23 Juni 2026 - 10:20 WIB

Agus Gia Apresiasi Konsuler KBRI Amman Pantau Kondisi PMI Sukabumi Korban Trafficking

22 Juni 2026 - 10:18 WIB

Beban Biaya Perawatan Rp1,3 Miliar, Nurlani Akhirnya Diselamatkan Solidaritas Buruh Lintas Negara

20 Juni 2026 - 17:38 WIB

Anggota DPR Cellica Nurrachadiana Desak Disnaker Karawang Cegah Penempatan Non Prosedural

19 Juni 2026 - 09:50 WIB

Indonesia-Jerman Teken LoI Peningkatan Kapasitas CPMI Sektor Kesehatan dan Teknologi Tinggi

19 Juni 2026 - 08:42 WIB

Trending di Berita