Bogor — Menyikapi peristiwa yang menimpa Fiki Muttaqin, salah satu Awak Kapal Migran asal Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, yang selamat dari maut usai tertembak dan berpura-pura mati saat penyanderaan, Ketua Umum Serikat Pekerja Kelautan dan Perikanan Perisai Pancasila (SPKP PP), Nursalim, menyampaikan apresiasi menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya atas kerja keras serta perjuangan jajaran perwakilan Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terkait, yang telah berjuang tanpa kenal lelah memfasilitasi diplomasi hingga seluruh Awak Kapal Migran berhasil diselamatkan dan dipulangkan dengan selamat ke Tanah Air.
“Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para diplomat dan tim perwakilan pemerintah Indonesia di lapangan yang telah bekerja keras mempertaruhkan waktu dan tenaga demi memastikan keselamatan jiwa para Awak Kapal Migran kita hingga bisa kembali berpelukan dengan keluarga di kampung halaman,” ujar Nursalim.
Disaat yang sama, Nursaim juga menaruh rasa keprihatinan mendalam terhadap nasib yang menimpa para Awak Kapal Migran. Tragedi di perairan Somalia kembali menegaskan tingginya risiko yang harus dihadapi para pelaut Awak Kapal Migran di tempat kerjanya di samudera lepas.
Oleh karena itu, atas nama serikatnya, Nursalim, menyampaikan simpati dan empati yang setinggi-tingginya kepada Fiki Muttaqin serta empat Awak Kapal Migran lainnya yang berhasil dipulangkan ke Tanah Air setelah lima bulan berada dalam trauma dan cengkeraman para perompak.
“Kami berdiri bersama saudara Fiki Muttaqin dan seluruh keluarga Awak Kapal Migran yang menjadi korban dalam peristiwa horor ini. Ketabahan Haikal untuk bertahan hidup di tengah hujan peluru adalah potret nyata ketangguhan sekaligus kerentanan luar biasa yang dialami awak kapal kita di luar negeri. Trauma fisik dan psikologis yang mereka alami tidak boleh dibiarkan begitu saja,” tegas Nursalim dalam pernyataan resminya.
Tiga Tuntutan Utama SPKP PP untuk Pemerintah
Guna memastikan perlindungan menyeluruh dan keadilan bagi para awak kapal setelah pemulangan, SPKP PP mendesak instansi terkait untuk segera mengambil langkah-langkah kongkret berikut:
- Investigasi Tuntas & Penegakan Hukum: Pemerintah diminta mengusut tuntas legalitas proses penempatan, pemilik kapal, serta agen penyalur (manning agency) yang menaungi para Awak Kapal Migran. Termasuk mengevaluasi menyeluruh terhadap rute pelayaran di kawasan rawan perompakan (high-risk areas) harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
- Pemenuhan Hak Gaji dan Restitusi: Seluruh hak finansial Awak Kapal Migran, termasuk tunggakan gaji selama masa penyanderaan, asuransi kecelakaan kerja, kompensasi pemulihan medis, hingga pemulihan psikologis, wajib dipastikan cair tanpa penundaan.
- Pendampingan Medis & Trauma Healing: Pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial harus menjamin perawatan medis para pelaut awak kapal migran hingga sembuh total serta memberikan layanan trauma healing berkelanjutan bagi seluruh korban dan keluarga.
Perjuangan Mempertahankan Hidup di Tengah Hujan Peluru
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Fiki Muttaqin berhasil selamat dari eksekusi perompak Somalia setelah berpura-pura meninggal dunia saat ditembak di bagian kaki. Peluru sempat mengenai mesin crane sebelum menyambar kakinya ketika ia melompat ke bawah dek kapal.
“Saat saya loncat, kaki tertembak dan saya jatuh sekitar 2–3 meter ke dek bawah. Di situ saya pura-pura mati. Kalau bergerak pasti ditembak lagi. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan hidup,” kenang Haikal saat menjalani perawatan di rumah kediamannya di Tenjo, Bogor.
Saat ini, empat Awak Kapal Migran lainnya yang disandera selama hampir lima bulan telah tiba di Indonesia dengan selamat melalui fasilitasi diplomasi pemerintah. Dukungan moral dari warga, aparatur kecamatan, hingga Pemerintah Kabupaten Bogor terus mengalir ke rumah Haikal untuk menguatkan proses pemulihannya.
SPKP PP menegaskan akan terus memonitor kasus ini hingga seluruh aspek pelindungan, pemulihan kesehatan, dan hak-hak ketenagakerjaan para Awak Kapal Migran terpenuhi secara utuh.
Sebelumnya. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berhasil membebaskan dan memulangkan Awak Kapal Migran MT Honour 25 setelah lebih dari lima bulan menjadi korban pembajakan dan penyanderaan oleh perompak Somalia. Para korban tiba di Indonesia, Selasa (6/10).
Mereka yang dipulangkan adalah, Ashari Samadikun yang merupakan kapten kapal asal Gowa Sulawesi Selatan, Adi Faisal yang merupakan Second Officer, Wahudinanto sebagai Chief Officer asal Pemalang, dan Fiki Muttaqin sebagai Awak Kapal.










