Kabar yang saya tunggu belasan tahun itu akhirnya sampai kepada saya lewat layar ponsel, dengan cara yang begitu biasa.
Kuasa hukum di sana mengabarkan bahwa Presiden Filipina memberikan pengampunan absolut kepada Mary Jane Veloso.
Saya menerima kabar itu di sela rapat kerja Komnas Perempuan yang panjang, di tengah pembahasan banyak tema dan strategi yang begitu intens.
Saya tak kuasa menahan air mata. Akhirnya, enam belas tahun perjuangan itu sampai juga pada ujung kemenangan. Enam belas tahun yang perih, namun tak sekali pun mengenal kata menyerah.
Saya bertanya-tanya apa yang Mary Jane rasakan saat ia berjalan keluar dari Correctional Institution for Women di Mandaluyong.
Di luar pagar, orang tuanya, Nanay Celia dan Tatay Cesar Veloso, menyambutnya. Bersama mereka ada Mark Daniel dan Mark Darren, dua anak yang ia ceritakan kepada kami di Wirogunan ketika mereka masih kanak-kanak.
Kini mereka laki-laki dewasa. Saya membayangkan Mary Jane menatap wajah anak-anaknya itu sambil menghitung, diam-diam, semua ulang tahun yang lewat tanpa dirinya.
Lalu sebagian orang di medsos menyebutnya sebagai mukjizat. Saya menolak kata itu. Mukjizat adalah kata yang menghapus nama dan jejak perjuangan.
Ya, ia menghapus Mary Jane sendiri, yang selama 16 tahun mengulang kesaksian yang sama di hadapan penyidik, hakim, dan wartawan, meski berkali-kali tidak dipercaya.
Ia menghapus waktu dan semua yang ia lalui di balik jeruji. Ia menghapus Nanay Celia dan Tatay Cesar yang tak berhenti turun ke jalan, para pengacara yang menolak menutup berkas, serta organisasi buruh migran dan perempuan lintas negara yang menulis surat, menggelar aksi, dan menagih janji dari satu presiden ke presiden berikutnya.
Iman Mary Jane menjadi bagian dari perjuangan itu, sumber tenaga untuk bertahan. Kebebasan ini tidak turun dari langit. Namun dirakit sepotong demi sepotong oleh orang-orang yang teguh berdiri menolak lupa.
Ini kemenangan, dan saya ingin menyebutnya dengan kata itu. Meski begitu, kemenangan ini meninggalkan catatan. Yang Mary Jane terima adalah pengampunan, dan pengampunan selalu ditujukan kepada orang yang dianggap bersalah.
Mary Jane tidak pernah meminta diampuni. Sejak hari pertama di Wirogunan, yang ia minta hanya satu: dipercaya. Negaranya membebaskan tubuhnya atas nama kemanusiaan, sementara di negeri kita putusan mati itu tetap tercatat sah. Tidak ada hakim yang meralat, dan tidak ada lembaga yang meminta maaf.
April lalu saya menutup catatan Paskah dengan kalimat bahwa kebangkitan itu belum datang, bahwa ia masih menunggu. Dan kini, penantian itu kini selesai.
Enam belas tahun sejak ia ditangkap di Bandara Adisutjipto, lebih dari sebelas tahun sejak regu tembak nyaris menjemputnya di pulau eksekusi Nusakambangan.
Mary Jane akan memulai stasi baru dalam perjalanannya sebagai manusia bebas.
Bertahun-tahun menyaksikan proses pemulihan korban mengajari saya bahwa pulang bukan akhir dari segalanya. Bahwa pulih bukan perjalanan linier yang bisa diprediksi.
Ada hari-hari biasa yang harus dipelajari kembali; tidur tanpa bunyi kunci sel, mencari nafkah di kampung yang telah berubah, membangun kedekatan dengan anak-anak yang tumbuh besar tanpa dirinya.
Dan Mary Jane berhak menjalani semua itu tanpa tuntutan untuk segera baik-baik saja. Langkah-langkah itu baru akan ia mulai di Nueva Ecija.
Dan tentu saja pemulihan tidak pernah menjadi kerja korban seorang diri. Ia menuntut pihak yg melukai untuk mengakui dan memulihkan luka yang ditimbulkannya.
Masih ada utang yang belum lunas, pengakuan bahwa negara kita nyaris menembak perempuan yang diperdagangkan, dan bahwa negara masih membiarkan Mary Jane—Mary Jane lain di luar sana bertaruh nyawa sendirian. Utang itu tidak gugur oleh selembar surat dari Manila, dan saya akan terus menagihnya. Namun, hari ini saya ingin membiarkannya menunggu sebentar.
Selamat pulang, Mary Jane. Tahun ini ternyata memang tahunmu.
Tebet, 27 September 2026
Yuniasri | Komisioner Komnas Perempuan









